Rabu, 14 Januari 2026

Megawati Kritik Pemerintah soal Bencana Sumatera: Kerusakan Hulu Dinilai Jadi Pemicu


  • Sabtu, 10 Januari 2026 | 22:30
  • | Parpol
 Megawati Kritik Pemerintah soal Bencana Sumatera: Kerusakan Hulu Dinilai Jadi Pemicu Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan orasi politiknya saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan HUT PDI Perjuangan ke-53 di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026). ANTARA FOTO/Monang Sinaga/fzn/rwa. (ANTARA FOTO/MONANG SINAGA)

JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM — Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, melontarkan kritik terhadap pemerintah terkait rangkaian bencana alam di wilayah Sumatera. Megawati menilai rentetan banjir ekstrem dan longsor yang terjadi belakangan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai peristiwa alam semata.

Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pidato dalam Rakernas PDI Perjuangan yang digelar di Beach City International Stadium, Jakarta Utara, pada Sabtu (10/1/2026).

Dalam pidatonya, Megawati mengaitkan bencana yang melanda sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, dengan persoalan serius di wilayah hulu. Ia menilai kerusakan lingkungan di kawasan tersebut berpengaruh langsung terhadap keselamatan warga yang tinggal di bagian hilir.

Menurutnya, banjir besar dan longsor merupakan dampak dari perubahan fungsi lahan yang semestinya menjadi wilayah penyangga alam, namun kini berubah menjadi area eksploitasi.

Megawati juga menyinggung maraknya pembukaan hutan untuk kepentingan tanaman monokultur. Ia menilai pola semacam itu membuat lahan kehilangan fungsi alami sebagai penyerap air, sehingga meningkatkan risiko bencana saat musim hujan.

“Ketika hulu rusak, yang menerima dampaknya justru rakyat kecil di hilir,” kurang lebih demikian inti kritik Megawati. Ia menekankan bahwa masyarakat bawah sering kali tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka.

Karena itu, Megawati menegaskan sikap politik PDI Perjuangan yang menolak model pembangunan yang mengabaikan dimensi keadilan ekologis. Ia menilai praktik eksploitasi yang berlangsung selama ini harus dihentikan karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan semangat kebangsaan.

“Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” ujar Megawati dalam pidatonya dikutip Antara.

Sebagai informasi, rangkaian acara HUT ke-53 PDI Perjuangan sekaligus Rakernas I Partai tahun ini mengusung tema “Satyam Eva Jayate”, dengan subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya.”

Tema Satyam Eva Jayate diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti “Kebenaran akan menang.” Sementara frasa “Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya”, yang dikutip dari lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, menggambarkan makna keteguhan dan daya tahan—sejalan dengan spirit tema utama Rakernas.

Editor : M. Khairul

Parpol Terbaru