Loading
Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng. (ANTARA/HO-MPR)
JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) MPR RI, Melchias Markus Mekeng, menegaskan bahwa keberlangsungan Indonesia sebagai bangsa majemuk sangat bergantung pada kekuatan Pancasila sebagai ideologi pemersatu.
Menurut Mekeng, tanpa Pancasila, Indonesia yang dihuni oleh ratusan juta penduduk dengan latar belakang suku, agama, ras, dan budaya yang beragam berpotensi mengalami perpecahan serius.
“Tanpa Pancasila, saya yakin negara ini sudah pecah. Kita bisa hidup rukun sampai hari ini karena memiliki alat perekat bangsa, yaitu Pancasila,” ujar Mekeng dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan Mekeng saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia menilai, pada masa Orde Baru, penguatan nilai-nilai Pancasila dilakukan secara sistematis melalui program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) serta mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Namun, setelah era reformasi, upaya penguatan ideologi bangsa tersebut dinilai mengalami penurunan.
“Dulu ada anggapan bahwa Pancasila tidak perlu dikultuskan. Padahal, ketika Pancasila tidak lagi diperkuat—terutama kepada generasi muda—ini justru menjadi sangat berbahaya bagi masa depan bangsa,” tegasnya.
Mekeng juga mengingatkan pandangan almarhum Taufik Kiemas, Ketua MPR RI periode 2011–2012, yang sejak awal telah melihat potensi ancaman ideologi baru yang bisa merusak persatuan nasional, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial.
“Lewat media sosial, narasi yang melemahkan bahkan menjelekkan Pancasila bisa dengan mudah menyebar hingga ke pelosok daerah. Ini yang harus kita waspadai bersama,” katanya.
Sebagai pembanding, Mekeng menyinggung pengalaman sejumlah negara seperti Yugoslavia, Irak, Libya, dan Suriah yang mengalami konflik berkepanjangan akibat rapuhnya ideologi pemersatu. Ia menilai kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia sebagai negara besar dengan hampir 300 juta penduduk dan ribuan kelompok etnis.
Karena itu, Mekeng menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila melalui sistem pendidikan nasional. Ia menyebut MPR mendorong agar pembacaan Pancasila dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya kembali dibiasakan sebelum kegiatan belajar mengajar.
“Kalau nilai-nilai ini luntur, tinggal menunggu waktu bangsa ini terpecah. Pendidikan ideologi harus dimulai sejak usia dini,” ujarnya.
Selain Pancasila, Mekeng juga menegaskan peran UUD 1945 sebagai dasar hukum negara, NKRI sebagai konsep persatuan wilayah dan pemerataan pembangunan, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi hidup bersama dalam perbedaan.
“Empat Pilar kebangsaan ini tidak bisa dipisahkan. Semuanya adalah satu kesatuan dan merupakan harga mati bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, kemajuan pembangunan dan kekayaan sumber daya alam tidak akan memiliki arti jika fondasi ideologi bangsa melemah. Oleh karena itu, sosialisasi Empat Pilar MPR RI dinilai harus terus dilakukan secara berkelanjutan demi menjaga keutuhan bangsa dan masa depan generasi mendatang.
“Kita tidak hanya berpikir untuk hari ini, tetapi juga untuk anak dan cucu kita. Jangan sampai mereka mewarisi negara yang terpecah,” pungkas Mekeng dikutip Antara.