Loading
Presiden Joko Widodo bersama tim tinjau lokasi ibukota negara baru di Kalimantan. (Net)
JAKARTA, ARAHPOLITIK.COM – Setelah memantau langsung sejumlah daerah, hingga saat ini tinggal dua provinsi yang menjadi calon kuat ibukota negara, yakni Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Timur.
Pemerintah provinsi Kalimantan Timur menyatakan telah dua kali memaparkan kesiapannya.
“Kami sudah dua kali memaparkan kondisi Kaltim dan meyakinkan pemerintah pusat bahwa Kaltim siap menjadi ibu kota negara, namun sampai sekarang memang belum ada kepastian penunjukan. Kita tunggu keputusan pusat. Kita berharap Kaltim yang ditunjuk sebagai ibu kota negara,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah atau Bappeda Provinsi Kaltim, Zairin Zain di Samarinda, Kamis (6/6/2019).
Zairin mengatakan itu saat menghadiri open house dengan Gubernur Kaltim dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim.
Dia menegaskan bahwa dua kali pertemuan dengan Kemnagri tersebut untuk meyakinkan tentang kesiapan Kaltim menjadi ibu kota negara menggantikan Jakarta.
Pernyataan kesiapan Pemprov Kaltim ini seiring wacana pemindahan ibu kota yang direncanakan akan dimulai pembangunannya tahun 2020. Dalam agendanya, tahun ini sudah harus dipastikan daerah mana yang ditunjuk sesuai survey kelayakannya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mengunjungi Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, lahan seluas 62 hektar yang disiapkan untuk calon ibu kota baru. Ketika itu, Presiden Jokowi menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga syarat untuk menentukan wilayah yang akan ditetapkan sebagai ibu kota baru menggantikan Jakarta. Sesuai persyaratan yang ditentukan, Kaltim merupakan salah satu wilayah yang dinilai tepat.
Tiga syarat itu berdasarkan hasil kajian dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), yakni ibu kota yang baru harus dekat dengan akses bandara internasional, dekat dengan pelabuhan laut, dan aman dari bencana alam baik gempa bumi, tsunami maupun banjir.
Dari syarat-syarat tersebut, maka Bukit Soeharto yang masuk Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara ini strategis karena diapit oleh dua bandara besar, dekat dengan pelabuhan laut yang berfungsi untuk mempercepat akses pembangunan.
Dua bandara itu adalah Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Sepinggan, Balikpapan. Kemudian Bandara APT Pranoto di Samarinda Utara, Kota Samarinda.
Berikutnya di Balikpapan ada dua pelabuhan besar, yakni Pelabuhan Karingau yang merupakan pelabuhan ekspor, kemudian Pelabuhan Semayang yang merupakan pelabuhan untuk kapal penumpang. Bahkan di Samarinda pun ada dua pelabuhan, yakni khusus kargo dan pelabuhan khusus penumpang.
Dari sisi keamanan pun kawasan ini sudah memilikinya karena tidak ada tsunami, gempa bumi, tidak ada gunung aktif. Bahkan jalan tol Balikpapan-Samarinda pun segera rampung sehingga menjadi modal untuk percepatan akses transportasi.*