Minggu, 03 Mei 2026

Diskusi Lintas Generasi Bahas Masa Depan Bangsa, Jusuf Kalla: Negara Harus Lebih Baik


  • Sabtu, 07 Maret 2026 | 19:30
  • | News
 Diskusi Lintas Generasi Bahas Masa Depan Bangsa, Jusuf Kalla: Negara Harus Lebih Baik Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla berdiskusi bersama tokoh lintas generasi di Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026) (ANTARA/HO-Dokumentasi Jusuf Kalla)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sejumlah tokoh dari berbagai generasi berkumpul dalam sebuah diskusi bersama Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, di Jakarta Selatan, Sabtu. Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan tentang kepemimpinan nasional dan arah masa depan Indonesia.

Dalam forum itu, Jusuf Kalla menegaskan bahwa diskusi yang berlangsung tidak memiliki agenda politik tertentu. Tujuannya sederhana: mencari gagasan agar negara bisa berjalan lebih baik.

“Intinya bagaimana negara lebih baik. Tidak ada pembicaraan menjatuhkan pemerintah,” ujar Kalla.

Diskusi berlangsung terbuka dengan membahas beragam isu strategis, mulai dari kebijakan ekonomi, pengelolaan keuangan negara, pendidikan, hingga dinamika dunia usaha. Kalla juga mengingatkan bahwa Indonesia perlu bersiap menghadapi potensi tantangan ekonomi di masa depan.

Menurutnya, langkah perbaikan harus dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah maupun masyarakat agar kondisi ekonomi tidak semakin berat.

“Dibutuhkan tindakan bersama agar situasi ekonomi tidak memburuk,” katanya.

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang. Di antaranya Titi Anggraini (Pendiri Perludem), Mandira Bienna (Ketua Forum Indonesia Muda), Diah Saminarsih (Founder CISDI), Yanuar Nugroho dari STF Driyarkara, serta Andhyta Utami (Founder Think Policy).

Diskusi ini mempertemukan kalangan akademisi, aktivis, pengusaha, hingga mahasiswa dalam satu forum dialog. Mereka berbagi pandangan mengenai tantangan kepemimpinan nasional di tengah perubahan global yang cepat.

Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari mengatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk belajar dari pengalaman panjang Jusuf Kalla dalam pemerintahan.

Menurut Feri, rekam jejak Kalla sebagai wakil presiden, menteri, ketua partai, hingga mediator dalam berbagai konflik memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan.

“Penyelenggaraan negara tidak boleh menggunakan insting dan cara instan. Itu yang kami pelajari dari konsep dan pengalaman Pak JK,” kata Feri.

Selain isu kepemimpinan, peserta juga menyoroti sejumlah persoalan ekonomi dan kebijakan publik yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara.

Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, dalam forum tersebut menyinggung persoalan ruang demokrasi, termasuk dugaan kriminalisasi terhadap sejumlah aktivis.

Ia menyebut masih ada ratusan aktivis yang saat ini berstatus tersangka. Tiyo kemudian mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah “bus besar” yang membawa sekitar 280 juta rakyat.

Bus itu, menurutnya, saat ini dikemudikan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Sebagai penumpang, rakyat berhak memberi teguran kepada sopir ketika arah perjalanan tidak sesuai dengan tujuan besar negara,” ujarnya.

Ia juga menyinggung program makan bergizi gratis yang menurutnya perlu dikaji agar lebih tepat sasaran dan tidak mengganggu anggaran sektor lain, terutama pendidikan.

Sementara itu, akademisi sekaligus Rektor Universitas Rakyat, Sudirman Said, menilai Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam hal kepemimpinan.

Menurutnya, kepemimpinan yang berbasis nilai intrinsik kini semakin jarang ditemukan dalam praktik kekuasaan.

“Kepemimpinan sejati dasarnya adalah integritas, visi, kebijaksanaan, pengetahuan, dan idealisme. Nilai-nilai ini yang makin langka dalam panggung kekuasaan,” kata Sudirman dikutip Antara.

Ia menambahkan, dalam situasi penuh tantangan seperti sekarang, negara justru membutuhkan figur pemimpin yang berpegang pada nilai-nilai tersebut untuk menjaga arah perjalanan bangsa.

Diskusi lintas generasi ini pun menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada para pemimpin, tetapi juga pada keberanian berbagai elemen masyarakat untuk terus berdialog dan mencari solusi bersama.

Editor : Farida Denura

News Terbaru