Loading
Kampus Universitas Gajah Madah Yogyakarta
JAKARTA, ARAHPOLITIK.COM - Sejumlah pakar dan dosen dari Fakultas Teknik UGM Yogyakarta mengusulkan daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan sebagai Ibukota Negara baru Indonesia dengan pertimbangan aspek kepentingan geopolitik dan geoekonomi.
Dekan Fakultas Teknik UGM, Nizam menyebutkan masa depan Indonesia berada pada lalu lintas kepulauan atau alur laut kepulauan Indonesia 2. Ada dua lokasi yang bisa menjadi pilihan, yakni wilayah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Pada aspek historis, Kalimantan Timur punya latar belakang sejarah, yakni Kerajaan Kutai Kartanegara.
Sementara itu Kalimantan Selatan punya pelabuhan dan kota yang sudah berkembang maju dan terbuka. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan sehingga perlu kajian lebih matang yang partisipatif, melibatkan kalangan kampus dan masyarakat sipil.
“Ekonomi berbasis maritim menjadi pijakan penting untuk ibu kota yang baru,” kata Nizam dalam diskusi terbatas bertajuk Rencana Pemindahan Ibu Kota Republik Indonesia di ruang sidang pimpinan Fakultas Teknik, Senin, (6/5/2019).
Nizam dan sejumlah dosen Fakultas Teknik yang terlibat dalam diskusi itu memang menyarankan agar pusat pemerintahan sebaiknya terpisah dari pusat bisnis (ekonomi dan perdagangan). Dia mencontohkan Australia yang memisahkan lokasi pusat pemerintahan dan perdagangan. Canbera menjadi ibu kota pemerintahan. Sydney menjadi pusat perdagangan.
Tujuannya agar keputusan yang dihasilkan pengambil kebijakan di pusat pemerintahan berjarak dengan intervensi atau hingar bingar kepentingan bisnis.
Dosen Perencanaan Spasial, Sudaryono mengatakan Kalimantan Timur secara geopolitik dan geoekonomi global cocok sebagai ibu kota. Secara kesejarahan Kaltim punya Kutai Kartanegara. Kaltim juga bisa disiapkan sebagai lokasi untuk strategi pertahanan karena bila terusan Pattani Thailand selesai dibangun, maka jalur lalu lintas laut dari Malaysia langsung melewati alur laut kepulauan Indonesia 2.
“Peradaban suatu negara dimulai dari pinggir sungai. Pantai Timur Kalimantan strategis sebagai Ibukota Baru,” kata Sudaryono.
Sementara itu, dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik UGM, Tumiran mengatakan pemerintah perlu memikirkan dampak ekonomi secara nasional dari pemindahan Ibukota tersebut. Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan cocok dipilih sebagai Ibukota baru agar dampak secara ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di Jawa.
Dari sisi ketersediaan energi, Kalimantan Timur juga kaya. Ada banyak tambang mineral, aluminium, gas, uranium. Perlu ada kajian mendalam tentang pembangunan berbasis industri regional, yang membawa dampak ekonomi secara nasional. Misalnya bagaimana memperkuat pelabuhan, industri kapal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
“UGM bisa membantu membuat detail skenario pengembangan industri,” kata Tumiran.*