Loading
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (tengah) HNW menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) Zona III. (ANTARA/HO-MPR RI)
JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak mahasiswa untuk mengambil peran nyata dalam kehidupan politik, bukan justru menarik diri karena kecewa atau lelah melihat situasi demokrasi yang penuh masalah.
Menurut HNW, sikap apatis hanya akan memperbesar jarak antara generasi muda dan proses pengambilan keputusan publik. Padahal, mahasiswa punya posisi strategis sebagai kekuatan moral yang dapat mengawal demokrasi agar lebih sehat, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat.
“Di DPR ada ruang partisipasi publik yang terbuka, termasuk melalui Badan Aspirasi Masyarakat. Mahasiswa bisa memanfaatkannya untuk menyampaikan gagasan, termasuk soal revisi UU pemilu dan pilkada,” kata HNW dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/1/2026).
Terima Kunjungan BEM PTMA Zona III
Ajakan tersebut disampaikan saat HNW menerima kunjungan BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah (PTMA) Zona III di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta.
Dalam pertemuan itu, para mahasiswa membahas sejumlah isu politik terkini sekaligus mengundang HNW untuk hadir sebagai pembicara utama pada Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III yang dijadwalkan digelar di Bandung pada 12–14 Februari 2026.
Sejumlah mahasiswa yang hadir antara lain Presidium Nasional BEM PTMA Zona III Wildan Mutaqin, Presma Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTMJ) Sauqi, serta Presma Uhamka Agus.
HNW: Politik Penuh Paradoks, Tapi Nilai Harus Diperjuangkan
Di hadapan mahasiswa, HNW menyinggung realitas politik yang sering tak berjalan lurus. Kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral tidak selalu beriringan. Namun, menurutnya, perjuangan berbasis nilai tidak boleh berhenti hanya karena kalah secara politik.
“Nilai yang kami perjuangkan tetap harus diperjuangkan, baik dipilih maupun tidak dipilih. Ketika membela rakyat, kami tidak pernah bertanya rakyat itu memilih kami atau tidak,” ujar HNW.
Ia menekankan partai politik semestinya berfungsi sebagai alat perjuangan kepentingan rakyat, bukan sekadar mesin untuk mengejar suara saat pemilu.
Tantangan Demokrasi: Uang Politik hingga Literasi yang Rendah
HNW juga menyampaikan bahwa demokrasi Indonesia masih menghadapi persoalan besar. Mulai dari biaya politik tinggi, praktik politik uang, rapuhnya netralitas aparat, hingga literasi politik masyarakat yang masih rendah.
Namun ia mengingatkan, menyalahkan rakyat saja tidak adil. Pembenahan demokrasi, kata HNW, harus dimulai dari “hulu”.
“Kalau ingin membenahi demokrasi, harus dimulai dari sistem kepartaian, rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik,” tegasnya dikutip Antara.
“Daripada Mengutuk Gelap, Lebih Baik Menyalakan Obor”
Dalam kesempatan itu, HNW mendorong mahasiswa menjadi sumber optimisme dan pencerahan publik. Ia mengibaratkan perubahan demokrasi seperti menyalakan obor: kecil jika sendiri, tapi akan terang jika dilakukan bersama.
“Satu obor memang kecil, tapi ketika obor-obor dinyalakan bersama, cahaya akan semakin terang,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan bahwa alternatif dari demokrasi bukan otomatis sesuatu yang lebih baik. Tanpa demokrasi, suatu bangsa bisa terseret ke arah otoritarianisme, tirani, atau bahkan ekstremisme.
Mahasiswa Apresiasi Keterbukaan HNW
Para mahasiswa menilai HNW sebagai salah satu politisi nasional yang cukup terbuka dan mudah ditemui oleh mahasiswa, organisasi kepemudaan, maupun aliansi masyarakat sipil. Mereka menyebut keterbukaan pejabat publik seperti ini masih jarang ditemukan.
“Ini menjadi catatan penting bagi kami, karena tidak semua pejabat publik memiliki keterbukaan yang sama,” kata Wildan Mutaqin.
Dalam dialog tersebut, mahasiswa juga menyampaikan kritik terhadap persoalan politik nasional, seperti mahalnya ongkos politik, lemahnya kaderisasi, serta fenomena perpindahan kader antarpartai yang dinilai semakin pragmatis.