Rabu, 14 Januari 2026

Tekanan Tugas Pemilu di India: Puluhan Petugas Meninggal di Tengah Revisi Daftar Pemilih


  • Kamis, 18 Desember 2025 | 10:15
  • | News
 Tekanan Tugas Pemilu di India: Puluhan Petugas Meninggal di Tengah Revisi Daftar Pemilih Shashi Verma, saudara ipar dari almarhum petugas pemilu Viay Kumar Verma, duduk di samping fotonya di rumahnya dekat Lucknow, Uttar Pradesh, India [Sumaiya Ali/Al Jazeera]

LUCKNOW, INDIA, POLITIK. ARAHKITA.COM - Program pembaruan daftar pemilih yang tengah berlangsung di India menuai sorotan tajam setelah puluhan petugas pemilu dilaporkan meninggal dunia dalam waktu singkat. Sejak awal November, setidaknya 33 petugas tingkat lapangan wafat saat menjalankan tugas revisi data pemilih, sebagian di antaranya diduga kuat terkait tekanan kerja ekstrem.

Program tersebut dikenal sebagai Special Intensive Revision (SIR), sebuah langkah besar yang digagas Komisi Pemilihan India untuk memutakhirkan daftar pemilih melalui pendataan dari rumah ke rumah. Tujuannya adalah memastikan hanya warga yang memenuhi syarat yang tercatat, sekaligus menghapus data pemilih yang tidak lagi valid.

Namun, di balik ambisi memperkuat demokrasi, muncul cerita getir dari para petugas lapangan—mayoritas merupakan guru sekolah negeri atau pegawai junior pemerintah—yang harus menanggung beban kerja nyaris tanpa henti.

Salah satu kisah yang menyentuh datang dari Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh. Vijay Kumar Verma, guru kontrak berusia 50 tahun, pingsan saat mengerjakan tugas SIR larut malam di rumahnya. Sepuluh hari kemudian, ia meninggal dunia akibat pendarahan otak. Keluarga meyakini kematiannya berkaitan langsung dengan tekanan tugas yang ia jalani sebagai petugas pemilih lokal.

“Sejak menerima tugas itu, ponselnya tak pernah berhenti berdering. Ia bekerja dari pagi hingga jauh malam,” ujar anggota keluarga Vijay. Putranya, Harshit Verma, mengungkapkan bahwa ayahnya kerap menerima pesan bernada ancaman dari atasan agar segera menyelesaikan ratusan formulir, atau siap menerima sanksi.

Menurut pedoman resmi Komisi Pemilihan India, petugas lapangan bertanggung jawab melakukan verifikasi rumah ke rumah, mengumpulkan dokumen, memotret pemilih, serta mengunggah data ke sistem daring. Masalahnya, satu kesalahan kecil saja dapat memaksa mereka mengulang seluruh proses dari awal.

Tekanan ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur digital, terutama di wilayah pedesaan. Banyak warga tidak memiliki dokumen dalam format elektronik, sehingga proses pendataan memakan waktu panjang. Setelah seharian bekerja di lapangan, para petugas masih harus mengunggah data hingga dini hari karena server kerap bermasalah.

Seorang petugas di Lucknow mengaku hanya tidur kurang dari dua jam per hari selama masa revisi berlangsung. Petugas lain mengatakan nomor telepon pribadinya tersebar luas, membuatnya menerima panggilan warga pada jam-jam tak wajar untuk mengoreksi data pemilih dilansir dari laman aljazeera.com

Laporan sebuah lembaga kajian di New Delhi mencatat bahwa sejak peluncuran SIR, sedikitnya sembilan petugas meninggal akibat bunuh diri, dengan beberapa di antaranya meninggalkan catatan yang menggambarkan kelelahan mental dan tekanan psikologis berat.

Kasus-kasus ini memicu kritik dari kelompok masyarakat sipil dan partai oposisi yang menilai pemerintah gagal memberikan perlindungan, dukungan psikologis, serta batasan kerja yang manusiawi bagi petugas pemilu. Hingga kini, respons resmi yang muncul dinilai sebatas belasungkawa, tanpa solusi struktural yang jelas.

Di tengah ambisi menjaga integritas pemilu, tragedi ini menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kesehatan dan keselamatan mereka yang bekerja di garis terdepan.

Editor : Farida Denura

News Terbaru