Loading
Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya. (Net)
JAKARTA, ARAHPOLITIK.COM - Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menegaskan bahwa hoaks, ujaran kebencian dan fitnah telah menutup prestasi dan kinerja Jokowi selama 4,5 tahun ini. Karena itu, tidak heran menjadi penjelasan mengapa prestasi Jokowi tidak berbanding lurus dengan perolehan suara di sejumlah daerah.
"Faktor utama yang memengaruhi prestasi Jokowi tidak berbanding lurus dengan perolehan suara di Pemilu 2019 adalah permainan hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang sudah menyerang sejak 2014 lalu," ujar Yunarto Wijaya.
Dikatakan, dengan pemerataan pembangunan yang dilakukan Presiden Jokowi antara Jawa dan luar Jawa serta tingkat kepuasan publik yang tinggi, maka Jokowi seharusnya meraih suara cukup signifikan. Namun, pada Pemilu 2019 tidak demikian, dan justru Jokowi banyak kalah di daerah luar Jawa.
"Ini pengaruh dominan hoax dan fitnah yang dialamatkan ke Jokowi. Sentimen yang dibangun seperti suara azan dihilangkan, Jokowi kriminalisasi ulama, Jokowi eks PKI, antek Cina dan asing. Masyarakat lebih percaya hoax tersebut dibandingkan melihat kinerja dan prestasi Jokowi," ungkapnya.
Kondisi ini diperparah dengan adanya politik aliran di beberapa daerah dengan mengeksploitasi dan melakukan politisasi agama dan suku agama ras dan antargolongan (SARA). Ketika hoaks dan politisasi agama bertemu dan dijadikan strategi pemenangan, maka daya rusak menjadi sangat tinggi terhadap Jokowi.
"Selain itu, sebenarnya juga pengaruh perilaku dan pesepsi pemilih yang cenderung dipengaruhi faktor emosional dibandingkan faktor rasionalitas dalam memilih. Pemilih tidak terlalu tertarik dengan faktor kinerja, tetapi faktor seperti gaya memimpin, seperti cenderung memilih pemimpin tegas dan gaya militer dibandingkan pemimpin sederhana dan sipil," jelas Yunarto.
Lebih lanjut, menurut Yunarto, memang tidak bisa disamaratakan untuk semua provinsi. Pemilih di wilayah Sumatera termasuk Aceh dan Jawa Barat misalnya, sangat di pengaruh politik aliran. Pada daerah lain misalnya, Kalimantan lebih dipengaruhi faktor kekayaan alam (sawit). Sementara itu Sulawesi karena faktor Jusuf Kalla sebagai representasi orang Sulawesi.
"Faktor-faktor itu menjadi tajam dann berbahaya ketika bertemu dengan hoaks, ujaran kebencian dan hoaks," pungkas Yunarto Wijaya.