Rabu, 14 Januari 2026

Konsultan Politik Ini Tawarkan ke Para Caleg Strategi Jitu Pemenangan Legislatif


 Konsultan Politik Ini  Tawarkan ke Para Caleg Strategi Jitu Pemenangan Legislatif Konsultan politik dan dosen ilmu politik Universitas Parahyangan Bandung dan Universitas Paramadina, Jakarta, Bonggas Adhi Chandra dalam acara diskusi dan beda buku yang berjudul "Wining Strategy" di Media Center DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/1/2019). (Foto: Arahpolitik/Rafael)

JAKARTA, ARAHPOLITIK.COM - Konsultan politik dan dosen ilmu politik Universitas Parahyangan Bandung dan Universitas Paramadina, Jakarta, Bonggas Adhi Chandra menilai, Pemilu serentak 2019 merupakan pemilu yang bersejarah dalam dinamika politik di Indonesia, karena dua pemilu tersebut digabung jadi satu yang dilaksanakan 17 April 2019 tahun ini.

Hal itu dikatakan dalam acara diskusi dan beda buku yang berjudul "Wining Strategy" di Media Center DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Diskusi dan beda buku tersebut menghadirkan pembicara yakni Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDIP, Andreas Hugo Pareira, Burhanuddin Muhtadi (lembaga survei Indikator), dan Yunanto Wijaya (lembaga survei Charta Political).

Tips tersebut dituangkan dalam sebuah buku berjudul Winning Strategy. Dalam buku itu dipaparkan berbagai strategi bagi calon legislatif jika ingin memenangkan pemilu legislatif.

Buku karya Bonggas tersebut merupakan buku pertama di Indonesia yang mengupas tentang langkah- langkah praktis bagi para Calon legislatif (Caleg) untuk memenangkan Pemilihan Legislatif 2019 mendatang.

“Saya tulis buku ini merupakan langkah langkah strategis yang perlu dipersiapkan dan dilakukan oleh para Caleg dalam pemenangan pileg 2019,” kata Bonggas saat peluncuran buku karyanya.

Dijelaskan Bonggas, pemilu serentak 2019 adalah pemilu bersejarah dalam dinamika politik di Indonesia, karena pileg dan pilpres digabungkan dengan harapan adanya penyederhanaan sistem Pemilu sekaligus penghematan anggaran.

“Akan tetapi dalam pelaksanaanya hingga H-3 bulan, Pemilihan legislatif cenderung lebih sepi dibandingkan Pileg 2014 lalu,” tandas nya.

Menurut dia, meski jumlah caleg dan Partai yang bertarung lebih banyak dibandingkan Pemilu 2014, tetapi suasana pileg terkesan adem ayem. Hanya beberapa Caleg yang masif memasang branding mereka di media outdoor, berbeda dengan suasana 2014.

Tak hanya itu, jebolan Uppsala University Swedia dan University of Queensland Australia ini menjelaskan, bahwa Pileg 2019 terkesan tenggelam oleh hiruk pikuk pilpres dan isu-isu seputar capres-cawapres.

Dijelaskan juga, bahwa para Caleg pun terkesan melakukan strategi wait and see. Mereka hanya sedikit caleg dan Timses yang sudah benar-benar melakukan edukasi politik kepada masyarakat.

Masih kata Bonggas, media sosial (medsos) sebagai media yang murah dan efektif terkesan masih minim dimanfaatkan oleh para Caleg. Muncul kekhawatiran, para caleg berusaha meminimalkan pengeluaran di awal untuk kemudian menggelontorkan dana masif di hari-hari terakhir dalam bentuk Politik Uang (money politics).

Jadi, bila hal ini terjadi, maka makin hancurlah sistem demokrasi terlebih yang di parlemen, terutama parlemen di Senayan akan dikuasai legislatif yang memang karena politik uang.

''Dapat dipastikan, Parlemen pun akan lemah dalam mengimbangi Eksekutif dan tindak pidana korupsi akan makin banyak menimpa para wakil rakyat periode 2019-2024 mendatang.Jadi, saya berharap para Caleg yang masuk DPR RI adalah anak muda yang berkualitas dan idealis,” imbuh Bonggas Adhi Chandra.

Dalam bukunya, Bonggas mengulas sejumlah strategi bagi para calon legislatif dan tim sukses bagaimana kiat sukses memenangkan calon legislatif, senator juga pilkada.

Laporan: Rafael

Editor : Farida Denura

Politik Terbaru