Sabtu, 14 Maret 2026

Pemimpin Perempuan Pertama Tersingkir, Partai Liberal Australia Berganti Nahkoda


 Pemimpin Perempuan Pertama Tersingkir, Partai Liberal Australia Berganti Nahkoda Seorang wanita berambut pirang dengan setelan putih dan kacamata menatap ke arah luar kamera, sementara orang-orang bersetelan jas duduk di bangku hijau di belakangnya.(Getty Images/BBC)

JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Sejarah singkat tercipta sekaligus berakhir cepat di tubuh Partai Liberal Australia. Sussan Ley, pemimpin perempuan pertama partai tersebut, resmi tersingkir dari kursi ketua oposisi setelah kalah dalam pemilihan internal melawan Angus Taylor.

Ley hanya bertahan sekitar sembilan bulan sejak ditunjuk memimpin pasca kekalahan telak Koalisi Liberal–Nasional dalam pemilu sebelumnya. Alih-alih menjadi momentum konsolidasi, masa kepemimpinannya justru diwarnai survei elektabilitas yang terus merosot serta konflik internal yang tak kunjung reda.

Spekulasi pergantian pucuk pimpinan akhirnya terjawab ketika Taylor secara resmi menantang Ley dalam pemungutan suara rahasia. Hasilnya tegas: Taylor menang dengan perolehan 34 suara, meninggalkan Ley dengan 17 suara. Bersamaan dengan itu, Jane Hume ditetapkan sebagai wakil pemimpin baru.

Dalam pernyataan publiknya, Taylor menyebut terpilihnya ia sebagai sebuah kehormatan besar. Ia menyatakan siap bekerja sama dengan Hume dan mengembalikan soliditas partai setelah periode penuh gesekan.

Tak lama setelah hasil diumumkan, Ley menyampaikan keputusan mengejutkan: mundur dari parlemen dan menarik diri sepenuhnya dari kehidupan publik. Meski demikian, ia menegaskan tak menyimpan dendam terhadap penerusnya. Dengan nada reflektif, Ley menyinggung pentingnya ruang dialog terbuka bagi seorang pemimpin—sesuatu yang, menurutnya, tidak selalu ia dapatkan dilansir dari BBC.

Angus Taylor sendiri bukan wajah baru di politik Australia. Mantan konsultan manajemen ini masuk parlemen pada 2013 dan pernah menjabat menteri di era pemerintahan Malcolm Turnbull dan Scott Morrison. Ia juga sempat kalah tipis dari Ley dalam perebutan kepemimpinan pada 2025.

Sejak awal, posisi Ley memang dinilai rapuh. Koalisi Liberal–Nasional—kemitraan politik yang telah terjalin sejak 1940-an—bahkan sempat pecah dua kali selama masa kepemimpinannya. Situasi makin rumit ketika jajak pendapat terbaru menunjukkan partai populis One Nation menyalip Koalisi dan merebut posisi kedua di bawah Partai Buruh Australia.

Kekalahan telak dalam pemilu lalu masih menjadi luka terbuka. Partai Liberal nyaris tersapu dari kota-kota besar, terutama akibat perbedaan tajam soal kebijakan energi dan iklim—isu yang hingga kini belum menemukan titik temu di internal partai.

Menutup masa jabatannya, Ley mengenang kepemimpinan itu sebagai pengalaman yang “sangat sulit”. Namun, dengan sentuhan personal, ia mengutip semangat masa mudanya di skena punk rock Canberra: keberanian untuk jujur pada diri sendiri—sebuah filosofi yang, menurutnya, tetap relevan di tengah kerasnya politik.

Editor : Farida Denura

Politik Terbaru