Loading
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyapa warga saat kunjungan ke tambang batu bara menjelang pemilihan Majelis Rakyat Tertinggi di Korea Utara pada 15 Maret 2026. (Foto: KCNA/vietnam.vn)
KOREA UTARA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Korea Utara menggelar pemilihan umum nasional untuk memilih anggota parlemen pada Minggu (15/3/2026). Ini menjadi pemilu pertama sejak Maret 2019 untuk menentukan anggota Majelis Rakyat Tertinggi, lembaga legislatif tertinggi di negara tersebut.
Pemilu yang berlangsung di seluruh negeri itu dilaporkan memiliki tingkat partisipasi hampir sempurna. Kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA) menyebutkan bahwa sekitar 99,99 persen pemilih terdaftar ikut memberikan suara hingga penutupan tempat pemungutan suara pada pukul 18.00 waktu setempat.
Dalam sistem politik Korea Utara, pemilu parlemen kerap dianggap lebih bersifat formalitas karena kandidat yang diajukan biasanya telah diseleksi oleh partai penguasa.
Kim Jong Un Berikan Suara di Tambang Batu Bara
Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, ikut memberikan suaranya di Tambang Batu Bara Pemuda Chonsong yang berada di Kota Sunchon, Provinsi Pyongan Selatan.
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin menegaskan peran penting industri batu bara bagi perekonomian negara yang selama ini menghadapi berbagai sanksi internasional.
Dalam kesempatan itu, Kim menegaskan bahwa batu bara masih menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi Korea Utara.
“Batu bara, seperti sebelumnya, adalah makanan bagi industri kita dan kekuatan pendorong bagi pembangunan ekonomi mandiri,” kata Kim dalam pidatonya kepada para pekerja tambang, seperti dikutip Antara dari KCNA.
Masa Jabatan Parlemen Sempat Diperkirakan Diperpanjang
Secara normal, masa jabatan anggota Majelis Rakyat Tertinggi seharusnya berakhir pada tahun 2024. Namun sejumlah pengamat menilai masa jabatan tersebut kemungkinan diperpanjang karena adanya kongres Partai Pekerja Korea yang baru saja berlangsung bulan lalu.
Kongres partai yang digelar setiap lima tahun itu juga diwarnai dengan perombakan sejumlah pejabat senior. Beberapa tokoh lama digantikan oleh generasi yang lebih muda.
Perubahan komposisi dalam kepengurusan partai tersebut membuat pemilu parlemen kali ini diperkirakan akan menghadirkan lebih banyak anggota parlemen dari kalangan muda.
Meski demikian, seperti pemilu sebelumnya, proses politik di Korea Utara tetap berlangsung di bawah pengaruh kuat partai penguasa yang memegang kendali utama atas sistem pemerintahan negara itu.