Kapolri Tito Karnavian: Ada Skenario “Martir” di Aksi 22 Mei


  • Jumat, 24 Mei 2019 | 01:40
  • | News
 Kapolri Tito Karnavian: Ada Skenario “Martir” di Aksi 22 Mei Kapolri Tito Karnavian Menunjukan Senjata M4 dari AS yang Disita dalam Siaran Pe

JAKARTA, ARAHPOLTIK.COM - Kerusuhan pasca pengumuman hasil Pilpres 2019 oleh KPU berbuntut panjang. Aksi massa yang berlangsung sejak sore hingga larut malam dan berlanjut sampai subuh mengakibatkan kerusuhan pada Rabu dinihari, 22 Mei 2019.

 Kerusuhan terjadi  di sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat setelah massa bubar pada Selasa malam, 21 Mei 2019. Sekelompok massa yang baru datang ke depan gedung Bawaslu memprovokasi polisi yang telah berjaga sejak siang hari di sana.

Awalnya mereka mencoba merusak pagar duri yang telah menghadang di gedung Bawaslu. Kerusuhan pun terjadi saat kerumunan massa ingin merusak kawat duri yang dibentangkan di depan Kantor Bawaslu. Polisi kemudian menegur massa dan mengimbau mereka agar tak melakukan perusakan.

“Ini kawat duri dari uang pajak rakyat,” ujar salah seorang massa aksi di lokasi, Selasa 21 Mei 2019 sekitar pukul 23.00 WIB.

Dalam aksinya, massa terus memprovokasi dengan nyanyian-nyanyian yang menyindir polisi. Tak lama kemudian terdengar deru langkah kaki polisi di jembatan penyeberangan. Barisan polisi langsung menyergap massa. Massa pun berlarian.

Saat itulah, kerusuhan mulai pecah. Polisi yang merangsek massa ke Jalan Wahid Hasyim arah Tanah Abang dihadang dengan petasan dan bebatuan. Polisi lalu melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Terjadi saling kejar dan kerusuhan pun jadi tak terelakan. Beberapa titik massa terus berakumulasi dan merambat hingga kawasan Petamburan, Jakarta Barat. Sasaran aksi kerusuhan akhirnya terjadi di Asrama Brimob di Jalan KS Tubun. Beberapa mobil dibakar massa.

Keesokan harinya, pernyataan resmi datang dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahwa 6 orang meninggal dan sekitar 200 orang terluka dalam kerusuhan itu.

"Sekitar 200 orang luka-luka per jam 9 ini dan ada sekitar enam orang tercatat meninggal," kata Anies di RS Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu, 22 Mei 2019 lalu.

Di media massa ramai diberitakan jika korban meninggal akibat luka tembak. Namun Kapolri Jenderal Tito Karnavian membantah peluru itu berasal dari anggotanya.

Dijelaskan, sudah ada tiga orang yang ditangkap karena memiliki senjata ilegal.  Ia lantas menunjukkan senapan laras panjang yang diduga akan dipakai untuk membuat rusuh aksi 22 Mei 2019, yaitu senapan laras panjang tipe M4.

"Ini senapan panjang jenis M4," kata Tito di Kantor Menkopolhukam, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.

Tito sendiri menegaskan dalam penjelasannya tentang penangkapan sejumlah pelaku yang memiliki senjata illegal sambil menunjukan senapan serbu standar militer Amerika Serikat itu.

Jenis senjata canggih berupa senapan serbu yang ditunjukan Kapolri itu dilengkapi dengan peredam suara. Senapan itu juga dapat dipasangi teleskop. Dijelaska, senjata jenis itu dapat berfungsi sebagai senapan untuk sniper yang tidak menimbulkan suara bising bila ditembakkan.

Tito menjelaskan, kepolisian telah menyita senjata itu beberapa hari sebelum aksi unjuk rasa 22 Mei berlangsung. Senjata itu disita dari sejumlah orang yang diduga akan membuat rusuh aksi 22 Mei.

Menurut Tito, senjata itu rencananya akan digunakan untuk menyerang bukan saja aparat, tapi juga peserta demo. Ini ada skenario menciptakan “martir” atau tumbal dalam aksi massa.  

Dengan tewasnya peserta demo, kelompok ini ingin menciptakan tumbal alias martir. Tito mengatakan kelompok ini akan membuat seolah-olah pelaku penembakan adalah dari aparat.

"Nanti seolah-olah yang melakukan dari aparat sehingga timbul kemarahan publik sebagai pembenaran langkah-langkah mereka berikutnya," kata dia.

Lebih jauh, Kapolri mengatakan tidak hanya menyita senjata laras panjang. Dalam penangkapan terhadap 3 orang pada 21 Mei 2019, kepolisian juga menyita setidaknya dua pucuk pistol dan 60 amunisi.

Diuraika Kapolri, menurut pengakuan pelaku, senjata itu juga akan digunakan pada 22 Mei. Kelompok ini, kata dia, juga berencana menciptakan tumbal untuk membuat publik marah terhadap aparat.

 "Kami mendapat informasi masih ada senjata lain yang beredar," katanya.*

News Terbaru