Loading
Teman-teman angkatan 1985 saat sematkan atribut pangkat bintang tiga Juli 2016 (@Polisi_Indonesia)
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian melantik Komjen Pol Ari Dono Sukmanto sebagai Wakapolri di Ruang Rupatama, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (17/8).
Ari Dono menggantikan Komjen Pol Syafruddin yang sebelumnya diangkat oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB).
Sebelum menjadi Wakapolri, Ari Dono menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri sejak 27 Mei 2016. Selain itu, Ari Dono juga tercatat menjadi Kapolda Sulawesi Tengah pada 2013 dan Staf Ahli Manajemen Kapolri dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi.
Sebagai gantinya, Kapolri menunjuk Komisaris Jenderal Arief Sulistyanto sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Sebelumnya Arief pernah menjabat sebagai Asisten Sumber Daya Manusia Kapolri, Staf Ahli Manajemen Kapolri, dan Kapolda Kalbar.
Tito menegaskan pemilihan Komjen Ari Dono Sukmanto sebagai Wakapolri dilakukan dengan pertimbangan matang. Selain itu sudah dikonsultasikan dengan Presiden Jokowi. Tito menyebut Komjen Ari Dono punya track record baik. Komjen Ari Dono dinilai menunjukkan keberhasilan kinerja saat menjabat Kapolda Sulteng dan Kabareskrim.
"Dia menangani satgas pangan cukup sukses, menjaga stabilitas pangan cukup bagus. Secara leadership beliau yang termasuk yang cool, tenang, dan saya pikir akan menjadi partner baik untuk mendukung tugas-tugas saya sebagai Kapolri," papar Tito.
Sebelumnya, Ketua DPR Bambang Soesatyo membeberkan bahwa dirinya mendengar Kapolri Jenderal Polisi Tito mengajukan Irjen Idham Azis sebagai Wakapolri menggantikan Komjen Pol Syafruddin yang telah menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Dia mengatakan informasi yang diperolehnya adalah Idham Azis akan menjadi wakapolri . Namun jadi atau tidak, tergantung keputusan Presiden Jokowi. Bambang menjelaskan dirinya tidak tahu apakah ada beberapa nama lain selain Idham Azis yang menjadi kandidat wakapolri. "Saya tidak tahu apakah ada beberapa nama namun yang saya dengar hanya Idham Azis," ujarnya. Dia menegaskan untuk posisi wakapolri, tidak ada sangkut pautnya dengan DPR karena diputuskan oleh Kapolri.
Laman ensiklopedia bebas Wikipedia sempat menampilkan profil Irjen Pol Idham Azis sebagai wakil kepala Polri. Namun hanya berselang jam kemudian, laman tersebut kembali berubah menampilkan Idham Azis sebagai Kapolda Metro Jaya, jabatan yang saat ini diembannya.
Saat mengakses laman Wikipedia yang menampilkan Idham Azis sebagai Wakapolri sekitar pukul 14.50 WIB, Kamis (16/8). Laman ensiklopedia Wikipedia diketahui bisa diubah oleh siapapun.
Sejumlah nama dikabarkan masuk bursa pendamping Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Nama-nama itu, sebut saja Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis, Inspektur Pengawasan Umum Komjen Putut Eko Bayuseno, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Ari Dono Sukmanto, dan Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Komjen Moechgiyarto.
Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menuturkan dengan naiknya Ari Dono menjadi Wakapolri, maka dipastikan Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis akan menjadi Kabareskrim menggantikan posisi yang ditinggalkan Ari Dono.
"Sekarang yang jadi pertanyaan siapa yang akan menggantikan Idham sebagai Kapolda Metro Jaya? Apakah Kakorbrimob Rudy Sufahriadi bersedia, setelah kasus videonya yang memalukan itu viral? Kita tunggu saja," kata Neta.
Namun prediksinya meleset, Kabareskrim diisi oleh Arief Sulistiyanto. Arief seangkatan dengan Tito yakni akpol 1987. Sedang Idham Azis dan Rudy Sufahriadi 1988.
Neta mengatakan Komjen Ari Dono adalah salah satu Komjen senior di Polri yang juga satu angkatan dengan Wakapolri sebelumnya, yakni Akpol 85.
"Dengan diangkatnya Ari Dono sebagai Wakapolri, sistem kaderisasi yang dibangun Polri selama ini tidak terganggu. Polri komit dan konsisten dengan dirinya sendiri dan tidak membiarkan adanya 'aksi lompat pagar' dalam penempatan jabatan. Dengan demikian jajaran kepolisian maupun masyarakat percaya pada sistem kaderisasi di Polri," papar Neta.
Menurutnya jika 'aksi lompat pagar' dibiarkan terjadi di Polri, kader kader kepolisian akan frustasi dan mereka akan hilang harapan karena sistem kaderisasi tidak punya kejelasan.
"Sebab Wakapolri adalah jabatan karir paling tinggi di kepolisian, sedangkan jabatan Kapolri lebih bersifat politis dan menjadi hak prerogatif presiden. Sehingga Pati yang berhak ikut dipilih dalam Wanjakti adalah Pati yang berpangkat Komjen, meski kemudian penentuan finalnya tetap Kapolri yang memutuskan," kata Neta.
"Sistem urut kacang yang tentunya mempertimbangkan kualitas , kapasitas dan kapabilitas para calon ini menurutnya akan lebih menghargai institusi ketimbang membiarkan adanya "aksi lompat pagar" dalam penunjukkan jabatan Wakapolri," tambahnya.
Neta mengatakan dengan dipilihnya Kabareskrim Ari Dono menjadi Wakapolri, ini sama seperti era Komjen Makbul Padmanegara yang dari Kabareskrim menjadi Wakapolri.
Ari Dono sendiri sudah cukup lama bertugas di lingkungan elit Mabes Polri. Dimulai dari Wakabareskrim dan Kabareskrim, sehingga sangat memahami dinamika yang terjadi di tataran elit kepolisian. "Pemilihannya sebagai Wakapolri adalah solusi yang tepat di tengah panasnya tarik menarik proses pemilihan Wakapolri," katanya