Loading
Grace Natalie Grace, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). (Rakyat Merdeka)
SIAPA yang tidak kenal dengan politisi perempuan, muda, cantik, lincah, cerdas dan berani ini? Dia adalah Grace Natalie Louisa. Nama dan wajahnya belakangan ini menghias media massa medsos dan televisi.
Grace Natalie atau Grace, demikian dia biasa dianggil, lahir di Jakarta 4 Juli 1982. Dia menempuh pendidikan SMAK 3 Penabur Jakarta. Pendidikan tinggi di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie (IBII) jurusan akutansi. Pernah juga mengikuti kursus di Maastrich School of Management, Belanda.
Grace kini menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sebelumnya, Grace menjadi Ketua Umum PSI. Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil meraih dukungan suara sebanyak 3 juta secara nasional pada pemilu perdana PSI, partai yang dikenal sebagai partainya anak muda ini.
Grace mengawali kariernya sebagai jurnalis dan penyiar berita di beberapa stasiun televisi, seperti SCTV, ANTV dan TVOne. Semua ini dimulai ketika dia mengikuti kompetisi SCTV Goes to Campus dan berhasil meraih kemenangan untuk wilayah Jakarta. Setelah itu dia kembali berkompetisi pada tingkat nasional dan berhasil masuk ke dalam 5 besar.
Keberhasilanya itu mengantarkan dirinya direkrut oleh SCTV untuk menjadi penyiar Liputan6. Setelah di SCTV, Grace pindah ke ANTV dan kemudian ke TVOne.
Meski sudah menjadi seorang penyiar atau pembawa acara, dia berani turun ke lapangan untuk mencari berita sendiri. Ia melakukan wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh dunia seperti Abhisit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand), Jose Ramos (Presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes) dan ekonom dunia George Soros.
Bahkan Grace, menunjukkan keberaniannya dengan ikut liput berita Tsunami Aceh tahun 2004, liput peristiwa letusan Gunung Talang di Sumbar yang saat itu tengah dalam status “Awas”. Dia terjun juga liput peristiwa yang penuh risiko yaitu kerusuhan berdarah di Poso. Selanjutnya, dia liput juga penggerebekan teroris di Tumanggung, Jawa Tengah. Banyak berita berisiko yang dia turun langsung untuk melakukan peliputan hingga sampai ada peristiwa yang menimbulkan trauma bagi dirinya ketika lolos dari upaya penusukan yang dilakukan tersangka Adil Firmansyah.
Pada tahun 2021 Grace memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai penyiar berita di televisi, dan beralih profesi menjadi CEO Saiful Mujani Research and Consulting.
Saat menjadi jurnalis, Grace menyabet penghargaan sebagai Anchor of the Year 2008 dan menjadi Runner Up Jewel of the Station 2009 versi blog News Admirer. Pada tahun yang sama Grace juga masuk dalam daftar 100 wanita terseksi versi FHM Indonesia.
Kini, sebagai caleg PSI Dapil III yang meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, dia memperoleh suara terbanyak, 193.556. Ia meraih suara tertinggi, bahkan lebih tinggi daripada perolehan sejumlah partai secara keseluruhan di dapil ini, seperti PKB dan Perindo.
Sangat disayangkan apabila politisi muda, cantik, lincah dan berani ini akhirnya tidak bisa melenggang ke Senayan karena PSI tidak memenuhi ambang batas 4 persen secara nasional sebagai syarat masuk ke DPR.
Beberapa pemikiran Grace yang menjadi sorotan belakangan ini adalah ketika dia menganjurkan agar Jokowi menjadi Ketua Umum partai koalisi parpol yang punya ideologi yang sama untuk bisa mengantarkan Indonesa menuju gerbang Indonesia Emas 2045.
Grace juga menganjurkan agar partai yang tidak memenuhi ambang batas parlemen, bergabung menjadi satu partai di DPR agar suara rakyat tidak hilang sia-sia. Grace menganjurkan dibentuknya fraksi threshold, daripada parliementary threshold.
Bagi Grace ambang batas fraksi adalah syarat raihan suara minimum bagi peserta politik untuk membentuk fraksi dalam DPR. Daripada Parliementary Threshold, lebih baik dibuat Fraksi Threshold yaitu kebutuhan suara minimum untuk membentuk fraksi sendiri di DPR}.
Sekarang kita tinggal menunggu pemikiran politik apa lagi yang akan dilontarkan politisi cantik ini, Grace Natalie Louisa.