Loading
Harry Tjan Silalahi politisi Katolik yang disegani. (Rumah Pengetahuan)
PARA politisi dan pengamat atau pemerhati politik senior pasti masih lekat dalam ingatan mereka tentang tokoh politik dan pemikir kebangsaan yang satu ini, Harry Tjan Silalahi. Wajah politik Indonesia di akhir masa Orde Lama dan masa Orde Baru sangat ditentukan atau dicitrakan oleh kerja politik dan juga pemikiran politik Harry Than Silalahi dkk.
Politisi Katolik berdarah Tionghoa dan bermarga Batak ini, lahir di Yogyakarta 11 Pebruari 1934 dengan nama Tjan Tjoe Hok. Jadi, sekarang genap 90 tahun. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari 10 bersaudara dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang mantri di rumah sakit mata di Yogyakarta dan ibunya seorang penjual makanan kecil dan gudeg.
Harry, demikian dia biasa dianggil, adalah seorang politisi Katolik yang disegani. Rasa segan dan hormat publik atau komunitas politik kepadanya bukan karena kekayaan materi atau karena menempati posisi puncak di panggung politik negeri ini, tetapi karena integritas dan moralitas politik yang dia bawa sebagai bendera perjuangan politiknya.
Setelah tamat SMA de Britto, dia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia dan mengambil fakultas hukum. Menariknya, beliau setelah diwisuda, ia tidak pernah mengambil ijazahnya sebagai sarjana hukum Universitas Indonesia. Ia berprinsip kemajuan dan kesuksesan seseorang di medan kehidupan tidak ditentukan oleh selembar kertas ijazah melainkan oleh perjuangan, kerja keras dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Bersama Partai Katolik, Harry sempat menjadi anggota DPR RI dan ditunjuk mengetuai komisi 1. Jiwa organisatorisnya tumbuh sejak usia muda belia. Pada masa mahasiswa, dia aktif di Perhimpunan Sin Hui dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (MKRI).
Sebelumnya Harry sempat menjadi ketua organisasi Peranakan Tionghoa -Chung Lien Hui. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut berganti nama menjadi Persatuan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia (PPSM). Ia juga aktif dalam Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia. Dia juga pernah bergabung dalam organisasi Buruh Katolik atau Ikatan Buruh Pancasila yang memiliki ikatan politik nasional pada akhir masa Orde Lama.

Harry Tjan Silalahi merayakan ulang tahunnya ke-91. (Foto: FB Sebastianus Salang).
Setelah pemilihan umum 1971 Harry tidak lagi giat di dunia kepartaian. Dia lebih memilih untuk beraktivitas di Centre for Stategic and International Studies (CSIS) yang merupakan suatu lembaga intelektual yang didirikannya bersama teman-temannya.
Tujuan didirikannya CSIS itu untuk memberikan ide alternatif dan berjangka panjang kepada pemerintah. Di sini Harry bekerja secara intelektual dengan menyumbangkan pemikiran dan analisisnya bagi pembangunan bangsa dan masyarakat luas.
Ada yang mengatakan Harry adalah seorang yang terbuka dan moderat. Tetapi menurut Sofian Wanandi, Harry kerap bersikap sangat konservatif karena politik dalam negeri yang menghadapi banyak sekali masalah. Namun, secara keseluruhan dia memiliki pemikian yang selalu dijadikan rujukan bagi pembangunan bangsa. Salah satu nilai perjuangannya adalah mempertahankan dan mengembangkan pluralisme agar watak pluralisme tetap tumbuh di negeri ini.
Salah satu sisi esensial dari perjuangan dan pemikirannya adalah bagaimana menjadi orang Indonesia. Baginya, untuk mejadi orang Indonesia, setiap orang asing harus memahami betul untuk apa negara ini dibangun dan Republik ini didirikan.
Integritas dan moralitas politik yang selalu dicitrakannya dan menjadi jiwa atau spirit perjuangan politiknya itu terinspirasi dari tokoh besar dalam politik Katolik, seperti J. Kasimo. Sedangkan pemikiran nasionalisme bagaimana menjadi orang Indonesia sejati, terinspirasi dari pemikiran Mgr. Albertus Soegijapranata tentang menjadi “100% Katolik dan 100% Indonesia”.
Namun titik balik perjalanan hidupnya menjadi seorang Katolik sejati bermula ketika bertemu dengan Romo Rudding SJ yang mengubah hidup dan perjuangannya di kancah politik negeri ini. Romo Ruddinglah yang memberi pengaruh kuat pada implementasi iman ke-Katolik-annya dan sikap politiknya.
Sayangnya, Romo Rudding dikabarkan hilang dan meninggal di Gunung Sumbing karena terjatuh dan terperosok ke dalam jurang. Tulang belulangnya ditemukan oleh pencari rumput beberapa tahun kemudian.
Intinya, jika ingin membaca sejarah politik di akhir masa Orde Lama dan awal Orde Baru bisa dengan membaca dari jalan cerita dan pemikiran-pemikiran Harry. Karena dia adalah salah satu pelaku sejarah bangsa yang dijadikan panutan berpolitik oleh politisi-politisi muda zaman sekarang.
Apabila ada politisi muda zaman now yang ingin berpolitik secara serius dan bermartabat, bisa berguru pada kepribadian dan pemikiran politik dan kebangsaan Harry Tjan Silalahi. Karena Harry adalah salah satu pelaku sejarah bangsa ini pada zamannya.
Penulis: Thomas Koten