Sabtu, 11 April 2026

Pemilu Paruh Waktu AS: Trump Punya Dana Besar, tapi Republikan Masih Waswas


 Pemilu Paruh Waktu AS: Trump Punya Dana Besar, tapi Republikan Masih Waswas Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota media selama pertemuan dengan para eksekutif minyak dan gas di Ruang Timur Gedung Putih pada 9 Januari 2026 di Washington DC. (Foto: Getty Images)

JAKARTA, POLITIK, ARAHKITA.COM – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengendalikan dana kampanye politik hingga US$1,4 miliar atau setara lebih dari Rp22 triliun menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Namun, besarnya dana tersebut justru memicu kekhawatiran di internal Partai Republik.

Laporan Puck News menyebutkan, sejumlah tokoh Partai Republik ragu Trump akan benar-benar menggunakan dana itu secara maksimal untuk membantu kandidat partainya dalam pemilu paruh waktu yang krusial. Seorang senator Republik yang tidak disebutkan namanya bahkan menyindir, “Dia tidak akan pernah menghabiskan semua uang itu—sejarah sudah membuktikannya.”

Dana kampanye tersebut belum termasuk sumbangan lain yang dikumpulkan Trump untuk proyek non-kampanye, seperti rencana pembangunan ruang dansa di Gedung Putih dan perpustakaan kepresidenan. Pada Agustus lalu, Trump sendiri sempat membanggakan bahwa ia telah mengumpulkan lebih dari US$1,5 miliar sejak pemilu 2024.

Kekhawatiran itu muncul karena Trump tidak lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Banyak pihak mempertanyakan ke mana sebenarnya aliran dana jumbo tersebut akan diarahkan. “Banyak orang bertanya, untuk apa semua ini?” ujar Saurav Ghosh, Direktur Reformasi Pendanaan Kampanye Federal di Campaign Legal Center, kepada Associated Press.

Secara teori, dana itu bisa memberi pengaruh besar, bukan hanya pada pemilu paruh waktu, tetapi juga peta politik menuju Pilpres 2028. Meski demikian, rekam jejak Trump menunjukkan ia kerap berhati-hati—bahkan terkesan enggan—mengucurkan dana besar untuk kampanye kandidat lain.

Sumber-sumber dekat Trump mengklaim ia tetap ingin membantu Partai Republik. Saat ini, tim intinya disebut tengah menyusun strategi untuk menentukan pemilihan mana yang akan menjadi fokus. Sejumlah nama kunci seperti Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, Wakil Kepala Staf James Blair, dan mantan manajer kampanye Chris LaCivita dilaporkan terlibat dalam proses peninjauan tersebut.

Taruhannya tidak kecil. Trump secara terbuka memperingatkan bahwa dirinya bisa menghadapi upaya pemakzulan jika Partai Republik kehilangan terlalu banyak kursi di Kongres. “Kalian harus memenangkan pemilu paruh waktu. Kalau tidak, mereka akan mencari alasan untuk memakzulkan saya,” kata Trump dalam pertemuan dengan anggota parlemen Republik bulan lalu.

Secara historis, partai presiden kerap kehilangan kursi dalam pemilu sela. Meski saat ini Partai Republik menguasai Senat dan DPR AS, keunggulan mereka di Dewan Perwakilan Rakyat terbilang tipis. Sementara itu, jajak pendapat agregat tahun 2026 yang dihimpun The New York Times menunjukkan kandidat Partai Demokrat unggul tipis atas Republik.

Pemilu paruh waktu memang masih beberapa bulan lagi. Namun satu hal jelas: besarnya dana kampanye Trump tidak otomatis menjamin kemenangan, terutama jika strategi dan distribusinya masih menyisakan tanda tanya dilansir dari laman The Independent.

Editor : Farida Denura

Politik Terbaru