Loading
Sanae Takaichi akhirnya memimpin Partai Demokrat Liberal Jepang dan berpeluang menjadi perdana menteri perempuan pertama. (Getty Images/bbc.com)
TOKYO, POLITIK.ARAHKITA.COM – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dikabarkan cenderung mempertahankan seluruh menterinya dalam kabinet baru yang akan diumumkan pekan depan. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber pemerintah pada Selasa (10/2/2026).
Keputusan itu muncul setelah Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat pada Minggu lalu. Dengan hasil tersebut, ia hampir dipastikan kembali dilantik sebagai perdana menteri melalui sidang parlemen yang dijadwalkan pada 18 Februari mendatang.
Parlemen Jepang akan menggelar sesi khusus yang diusulkan berlangsung selama 150 hari, hingga setidaknya 17 Juli 2026. Usulan ini telah mendapat persetujuan baik dari partai-partai koalisi pemerintah maupun kelompok oposisi utama.
Sesi khusus itu digelar menyusul pembubaran majelis rendah pada akhir Januari, tepat di hari pertama sidang reguler parlemen. Langkah tersebut membuka jalan bagi pelaksanaan pemilu sela yang akhirnya dimenangkan koalisi pimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP).
Dalam pemungutan suara untuk memilih perdana menteri nanti, Takaichi diperkirakan tidak akan menghadapi hambatan berarti. Koalisi LDP bersama mitranya kini menguasai lebih dari dua pertiga dari total 465 kursi di majelis rendah—sebuah kekuatan politik yang sangat dominan.
Menurut sumber yang sama, peluang terjadinya perombakan kabinet relatif kecil. Kabinet Takaichi sendiri baru terbentuk pada Oktober lalu, dan kemenangan besar dalam pemilu dianggap sebagai sinyal kepercayaan publik terhadap formasi yang ada dikutip Antara.
Selain itu, LDP juga telah mengusulkan agenda pidato kebijakan yang akan disampaikan perdana menteri dan para menteri senior pada 20 Februari. Rencana tersebut telah mendapat lampu hijau dari Aliansi Reformasi Sentris dalam pertemuan antar-pimpinan urusan parlemen.
Langkah mempertahankan susunan menteri dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas pemerintahan di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik yang masih membayangi Jepang. Publik kini menunggu arah kebijakan Takaichi untuk periode kepemimpinan berikutnya.