Pemilu Sela Jepang: LDP Diprediksi Kembali Kuasai Mayoritas di Bawah Sanae Takaichi


 Pemilu Sela Jepang: LDP Diprediksi Kembali Kuasai Mayoritas di Bawah Sanae Takaichi Tangkapan Layar- Warga Tokyo menuju tempat pemungutan suara di tengah hujan salju langka di kota tersebut. (Video bbc.com)

JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Pemilihan umum sela di Jepang resmi berakhir, dan hasil awal menunjukkan Partai Liberal Demokrat (LDP) berpeluang besar kembali menguasai mayoritas parlemen. Pemilu ini digelar atas inisiatif Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang ingin mendapatkan mandat publik lebih kuat setelah empat bulan memimpin pemerintahan.

Jika proyeksi itu benar, kemenangan LDP menjadi titik balik penting. Dua perdana menteri sebelumnya gagal mempertahankan dukungan akibat serangkaian skandal korupsi dan melonjaknya biaya hidup. Kini, Takaichi—perdana menteri perempuan pertama Jepang—tampak mampu memulihkan kepercayaan publik terhadap partai penguasa tersebut.

Selama beberapa dekade, LDP nyaris tak tergoyahkan dalam politik Jepang. Lemahnya oposisi membuat koalisi yang dipimpin partai ini mendominasi pemerintahan pascaperang. Namun situasi sempat berubah ketika LDP kehilangan mayoritas di kedua majelis dan hubungan lama dengan partai Komeito ikut retak.

Langkah menggelar pemilu sela sempat dianggap sebagai pertaruhan berisiko. Tetapi popularitas pribadi Takaichi terbukti menjadi magnet. Tingkat persetujuan terhadap pemerintahannya berada di kisaran 70 persen, dan sejumlah jajak pendapat memprediksi koalisi LDP bersama Partai Inovasi Jepang dapat meraih hingga 300 dari 465 kursi di majelis rendah.

Ekonomi Jadi Penentu Suara

Bagi banyak pemilih, persoalan ekonomi menjadi pertimbangan utama. Jepang yang lama hidup dengan inflasi rendah kini menghadapi kenaikan harga yang terasa di kantong warga.

“Orang ingin hidup lebih nyaman, tapi biaya terus naik. Kami butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar tambal sulam,” ujar Ritsuko Ninomiya, seorang pemilih di Tokyo.
Keluhan serupa disampaikan keluarga muda seperti Rumi dan Daniel Hayama. Mereka kesulitan mencari rumah yang lebih besar meski sama-sama bekerja. “Harga perumahan sangat mahal. Dulu hidup di Jepang tidak sesulit ini,” kata Rumi.

Antusiasme di Tengah Cuaca Ekstrem

Pemilu kali ini juga mencatat momen unik: digelar pada musim dingin terdingin dalam 36 tahun terakhir. Salju lebat memaksa penutupan puluhan jalur kereta, rute feri, hingga pembatalan puluhan penerbangan. Meski begitu, warga tetap berdatangan ke tempat pemungutan suara.

Antusiasme itu tak lepas dari gaya kampanye Takaichi yang populis dan bernuansa nasionalis. Ia menjanjikan peningkatan belanja negara untuk memacu ekonomi. Namun kalangan bisnis masih ragu, mengingat utang Jepang sudah termasuk yang tertinggi di antara negara maju. Sikapnya yang konservatif terhadap imigrasi juga dinilai kurang menjawab kebutuhan tenaga kerja di tengah populasi yang menua.

Oposisi Mulai Menguat

Tantangan lain datang dari blok oposisi yang kini lebih solid. Mantan sekutu LDP, Komeito, memilih bergabung dengan Partai Demokrat Konstitusional Jepang dan membentuk kekuatan baru di parlemen.

Isu hubungan luar negeri turut mewarnai pilihan pemilih. Kedekatan Takaichi dengan Presiden AS Donald Trump, termasuk dorongan peningkatan anggaran pertahanan Jepang, menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

“Saya cemas soal kebijakan Trump dan rencana belanja pertahanan. Dari mana dananya? Jangan sampai kebutuhan rakyat terabaikan,” ujar Yuko Sakai, pemilih lainnya dilaporkan BBC.

Hasil resmi memang belum diumumkan, namun arah politik Jepang tampak mulai jelas. Jika LDP benar-benar menang telak, Sanae Takaichi akan memasuki babak baru kepemimpinan dengan mandat yang jauh lebih kuat—sekaligus beban besar untuk menjawab persoalan ekonomi yang menghimpit warganya.

Editor : Farida Denura

Politik Terbaru