Rabu, 14 Januari 2026

Jangan Merusak Keindahan Politik Negeri Ini


  • Penulis Thomas Koten
  • Kamis, 23 Januari 2025 | 22:30
  • | Catatan
 Jangan Merusak Keindahan Politik Negeri Ini Ilustrasi: Politik Indonesia. (Net)

Oleh: Thomas Koten


DENGAN melihat perilaku politik elite negeri ini, sekaligus membaca dan mendengar narasi-narasi politik mereka di medsos, mendesak kita untuk mengatakan warna-warni politik apakah gerangan yang kini sedang mengisi akustik ruang publik negeri ini. Apakah warna politik kita dibingkai oleh pelangi yang indah atau sedang ditutupi kabut hitam penuh noda yang menjijikan. Atau sedang ditaburi sampah yang berbau.

Apa pun penilaian Anda terhadap wajah perpolitikan di negeri ini, kita coba kembali kepada tesis dasar nan klasik dari para pemikir Yunani kuno, terutama Aristoteles dan Plato. Baik Aristoteles dalam karya klasikya yang telah menjadi magnum opus, Nichomachean Ethic, maupun dalam karya klasik Plato, Republic, dikatakan, politik  itu indah, suci, terhornat dan mulia.

Politik itu indah, suci, terhormat dan mulia karena politik merupakan jalan atau wahana untuk membangun masyarakat utama. Masyarakat utama adalah masyarakat yang di dalamnya tertata hukum, norma dan atau yang mengarahkan kondisi masyarakat pada terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Karena politik juga seperti kata filsuf etika Prancis Paul Ricoueur adalah jalan yang mengarahkan masyarakat ke kehidupan yang lebih baik bersama untuk orang lain dalam rangka memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi yang adil. Dan politikus yang baik dan benar dalam menjalankan misi-misi politiknya adalah mereka yang memiliki kepedulian etis dan keutamaan moral dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan.

Politik Kriminal
Sayangnya, bagi republik ini, bahkan di banyak negara di dunia, keindahan politik hanya sebagai lukisan indah masa lampau di zaman Yunani kuno. Kalaupun masih terjadi di masa kini, itu hanya sebagai mimpi indah yang mesti diperjuangkan secara terus menerus, atau hanya berupa ilusi politik para politisi pemula yang masih baru belajar politik, atau hanya tersimpan dalam memori para politikus idealis.Memang dalam praktiknya di Indonesia hari ini, politik tak lagi suci,mulia dan terhormat dan bermartabat. Politik dibaluti perselingkuhan, penuh drama kelicikan, dan kemunafikan, kadang sudah sampai pada wajah politik yang kotor dan menjijikan.

Politik ala Niccolo Machiavelli, begitu menyentuh. Bagi filsuf sekaligus politisi berkebangsaan Italia ini, politik tak butuh moral dan etika. Politik perlu licik, pandai berselingkuh dengan lawan politik, perlu kerja sama dengan para politisi kotor, apabila Anda ingin sukses. Bahwa untuk meraih kekuasaan, Anda boleh saja membunuh lawan-lawan politik Anda, tidak perlu takut mengkhianati kawan dan bekerja sama dengan lawan, jangan takut curang, abaikan nilai-nilai agama.

Hanya dengan cara-cara kotorlah kekuasaan dapat dengan mudah diraih dan dipertahankan. Hanya dengan punya duit, kekuasaan bisa dibeli. Tidak penting visi, misi dan program yang hebat. Kalaupun itu ada, bukanlah yang utama. Yang penting gizinya jelas dan mencukupi, siap untuk langsung dinikmati. Dengan dompet tebal dan siap muka tebal dan pandai merayu dan mengkamuflase dan bermain licik, kekuasaan dapat dengan mudah diraih.

Semua jalan pintas dalam meraih kekuasaan itulah yang disebut atau cermin politik kriminal. Bahwasanya, kriminalisme politik adalah bentuk penegasian terhadap etika politik, dan kehormatan serta keindahan politik. Politik kriminal sebagai nama lain dari apa yang dikatakan filsuf Hannah Arendt sebagai banalitas politik (the banality of political evil).

Dalam komunitas politik yang banal, menyitir tulisan saya di Radar Banten (13/7/2013 )dimana kejahatan politik merajalela, bau amis politik begitu menyengat, semakin massif dan dipraktekkan secara sistematis dan vulgar. Wajah bangsa pun akan semakin sulit tercerahkan, karena orang-orang cerdas dan idealis, berintegritas semakin tergerus dari pertarungan politik yang elegan. Dan pada titik ini, kita pun tak bisa lagi bermimpi tentang kehidupan bangsa yang semakin baik dan bersahaja bagi segenap warga bangsa.

Masih Ada Waktu
Wajah politik kita hari ini benar-benar tidak baik-baik saja. Perguncingan politik di antara para elite politik yang terlihat di medsos, terlihat bukan saja kasat mata, tetapi sangat sadis. Kita atau para nitizen begitu muak  melihat dan menyaksikannya. Apalagi di saat hati nurani kita masih mau berbicara.

Hanya bahwa kita percaya, bahwa di tataran elite negeri ini masih punya hati nurani dan punya niat baik untuk melakukan sesuatu yang lebih baik untuk politik negeri ini. Sehingga, niat baik untuk mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi lebih baik, masih tumbuh dalam hati dan pikiran para elite negeri tentang etika dan moralitas berpolitik untuk membangun masyarakat utama, masyarakat sejahtera dengan berpijak pada politik yang bermartabat.

Sadis dan mengerikan jika dalam hati dan pikiran elite negeri ini tak ada lagi tumbuh niat baik untuk segera memperbaiki kehidupan politik negeri agar martabat bangsa segera tumbuh. Berharap. Semoga. 

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru