Loading
Thomas Koten Analis Sosial-Politik. (Foto: Istimewa)
Oleh: Thomas Koten
MEMOTRET Indonesia hari ini adalah sebuah bangsa atau negeri yang tidak baik-baik saja. Negeri ini tak henti-hentinya memuncratkan keprihatinan bersama tentang perilaku elit bangsa yang sedang dan senang sikut-sikutan, gigit-gigitan, gontok-gontokan, senang menyalahkan, menuduh dan menyudutkan pihak yang dianggap lawan.
Para elit politik terus bergerak dalam karnaval politik yang kealpaan moral dan mementingkan kekuasaan syahwat diri sendiri. Narasi-narasi yang dicuatkan hanya mengagungkan retorika dan logika cara berpikir yang dangkal tanpa makna, penuh kebohongan dan kamuflase. Mereka tak peduli dari narasi-narasi nan retorik itu bisa memuncratkan darah segar kekerasan, vandalisme, unjuk rasa dan demonstrasi yang bisa berujung makan korban.
Bak artis film, para elit politik bangsa hari ini –meminjam Albert Schweitzer telah tererangkap dalam fenomena A strange mixture of civilization and barbarism. Adalah bau amis yang sedang keluar dari selangkangan raksasa langit biru Indonesia antara kebudayaan sekaligus kebiadan, antara sinatria dan dursila.
Politik tak Bermoral
Itulah fenomena kontroversial yang memuakkan dari para artis politik atau politikus yang gemar publisitas. Padahal, para politikus intelektual sebenarnya adalah makhluk khusus yang tidak dilahirkan sembarangan untuk membedah masalah bangsa. Esensi dan eksistensi peran mereka sebenarnya putih-suci-murni-bening, tetapi semua itu seperti sudah ternoda oleh kuasa uang, jabatan alias harta, tahta dan wanita.
Tetapi di sisi lain, para politikus juga adalah manusia biasa, yang konon menurut filsuf Nietzsche, adalah tak dibuhul antara binatang dan manusia utama. Di sini ada seutas tali di atas jurang. Orang menyebutnya sejenis penyeberangan sekaligus kehancuran sosial budaya. Apabila politikus mengeksplorasi watak kebinatangan, maka ia menampilkan diri sebagai sosok politikus tukang, bukan sosok politikus cendekia yang bernas dalam memperjungkan kepentingan bangsa.
Kalau sudah demikian, secara perlahan bangsa ini digiring ke dalam kubangan politik tanpa budaya politik. Mereka jauh dari deretan harapan Nietzsche, jadilah butir air yang berat, jatuh satu demi satu , dari awan gelap. Yang dijatuhkan pula bukan hanya hujan salju atau roti-keju, tetapi mawar berduri dan anggur yang memabukkan. Langit pertiwi kita tidak lagi diasosiasikan sebagai peradaban timur yang santun, dengan narasi-narasi politik yang menggairahkan, tetapi jangan-jangan politik dengan retorika yang memuakkan.
Kita pun khawatir, bangsa Indonesia yang berbudaya timur yang santun dan luhur ini perlahan hilang dari lembaran sejarah. We might disppear completely in history as nice smiling people. Seperti kata MT Zen, “Saat ini seluruh bangsa sedang berada di pinggir kegalauan. We are on the brink of chaos.
Chaos, meminjam Webster –sebagai Utter confussion or disorder withut organization. Agak berbeda dengan definisi fisika atau matematika. Sebuah definisi fisika berbunyi, A kind of order with out periodicity, suatu keteraturan tanpa periodisitas.
Untunglah bangsa kita masih di pinggir jurang belum terperosok dan jatuh ke dalam jurang yang menganga lebar. Tetapi hati-hati karena saat berada di pinggir jurang sebenarnya sudah sangat berbahaya. Seperti berada di pesawat udara, orang sudah berteriak mayday-mayday tanda bahaya yang sedang mengintai.
Masih Ada Harapan Sebelum Terlambat
Saat ini kita masih berharap bangsa ini segera menjauh dari jurang bahaya yang kini sedang mengintai. Harapan tentu masih digantung di pundak elite negeri ini. Kita berharap wajah dursila perpolitikan kita, para politisi yang terus membusuk negara segera diubah dan atau berubah diri menjadi wajah sinatria. Adalah wajah-wajah kesatria untuk negeri.
Sulit mencari politisi-politisi idealis dan bersih, berjiwa benar-benar kesatria yang bersedia hidup miskin di tengah sogokan dan tawaran-tawaran materi yang menggiurkan, di mana benar-benar ikut berjuang dan menderita bersama rakyat kecil, yang tidak mudah goyah oleh harta, tahta dan wanita.
Shakespiare pun berteriak dalam Hamlet, honest my Lord? Kata Hamlet, Ay, Sir to be honest, as this world goes is to be one my picket out of ten thuosand.
Maka, suara Sapardi Joko Damono, terpojok risau di dinding rumah kita yang megah ini, Rumah Indonesia.
Ada yang sedang menanggalkan pakaianmu
Satu demi satu
Dan membuatku bertanya
Tubuh siapakah gerangan yang kaukenakan?
Penulis adalah Analis Sosial-Politik.