Loading
Di balik merebaknya penyakit korupsi adalah terlibatnya banyak perempuan Indonesia dalam aneka kasus korupsi. (Hukumonline)
Oleh: Thomas Koten
SALAH satu fenomena yang memiriskan di balik merebaknya penyakit korupsi adalah terlibatnya banyak perempuan Indonesia dalam aneka kasus korupsi. Dan apabila dirunut ke belakang dalam 15 tahun terakhir –sesuai catatan penulis-, sudah terdapat cukup banyak perempuan atau wanita Indonesia terdidik terlibat dalam kasus korupsi, suap dan pencucian uang.
Dari jumlah peremuan yang terlibat dalam kasus kejahatan keuangan itu memang jauh lebih sedikit daripada laki-laki. Tetapi, jumlah yang terus bertambah dari waktu ke waktu mencuatkan pertanyaan yang berkaitan dengan kiprah perempuan dalam jagat sosial, ekonomi dan politik, terutama dalam perspektif emansipasi atau kesetaraan jender.
Pergeseran Nilai Kerja dalam Persektif Jender
Hadirnya peradaban modern telah melahirkan pergeseran nilai kerja secara sosial, politik dan ekonomi dalam relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan dalam dimensi kesetaraan jender. Perempuan yang berpuluh tahun atau beratus tahun berada dalam citra pigura yang melembaga dengan stereotipe kecantikan dan kelembutaan, mengutamakan kerja domestik rumah tangga, kasur dan dapur telah berubah total dengan lahirnya kaum perempuan secara utuh dalam dunia kerja, ekonomi, politik dan sosial.
Perempuan yang berada dalam balutan stereotipe kecantikan dan kelembutan yang secara alamian dipadukan dengan keperkasaan laki-laki, sehingga tercipta keserasian yang harmoni. Lalu kini perempuan-pperempuan itu terjun bebas dalam arena kerja yang penuh persaingan. Dalam arena ini, tak peduli lagi dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, karena yang diutamakan adalah hasil kerja yang menguntungkan para pemilik modal.
Dalam arena ini, perempuan harus pandai bermain dalam kerja dan sanggup bersaing dengan laki-laki untuk bisa mendapatkan keuntungan hasil prooduksi. Kemudian apa yang terjadi, kecantikan dan kelembutan fisik perempuan dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan dunia produksi sesuai tuntutan dunia kapitalis.
Celakanya, tuntutan dunia kapitalis seperti tak henti-hentinya memberhalakan tubuh perempuan yang cantik dan lembut itu untuk kepentingannya. Perempuan sendiri pun entah sadar atau tidak, entah membiarkan atau tidak, dirinya menjadi berhala kapitalisme itu. Akhirnya, kini tidak ada rahasia lagi jika semakin banyak perempuan dijadikan “umpan” untuk memperlicin dalam lobi-lobi bisnis, bahkan juga sebagai media politik untuk meraih atau mendulang suara pada pemilu atau pilkada. Peremuan pun semakin mempercantik diri untuk menambah kepercayaan diri
Pada tataran itu, perempuan pun secara sadar atau tidak, terlibat dalam arena-arena persekongkolan dan penyelewengan dan seperti korupsi, kolusi, sogok menyogok, dan lain-lain. Perempuan-perempuan cantik dan lemah lembut “disodorkan” dalam kerja lobi-lobi bisnis untuk mendapatkan proyek. Keuntungan yang diperoleh dalam kerja ini bukan lagi hanya fee sebagai hak kerja, tetapi terkadang menjadi obyek pencucian uang atau obyek kejahatan ekonomi lainnya.
Tanggung Jawab Bersama
Lalu siapa yang harus disalahkan dalam dunia seperti ini tatkala anggota keluarga kita yang perempuan yang cantik dan lemah lembut diarahkan ke dalam dunia bisnis yang penuh persaingan tanpa kompromi, tidak peduli Anda dari keluarga apa, atau gimana, yang penting keuntungan ekonomi bisnis para kapitalis dapat terpenuhi.
Dalam dunia ekonomi, politik dan bisnis, hakikatnya perempuan bukan saja ditempatkan berdasarkan kecantikan dan kelembutan serta berbagai pesona keindahan tubuh, tetapi pada profesionalisme. Diharapkan dengan mengedepankan profesionalisme, perempuan tidak lagi membiarkan dirinya atau memanfaatkan dirinya dalam jebakan komoditas diri dalam tatanan kapitalisme yang semakin kejam dalam pemberhalaan –fetish- tubuh-tubuh perempuan.
Dan harus diperhatikan adalah bahwa kehadiran kaum peremuan dalam dunia kerja harus menjadi tanggung jawab bersama. Penyalahgunaan kehadiran perempuan dalam dunia kerja harus dieliminasi. Perempuan adalah bagian dari kita semua. Perempuan adalah istri, anak, saudari dan kekasih kita. Jeritan dan tangisan mereka adalah jeritan dan tangisan kita juga.
Penulis adalah Analis Sosial dan Politik.