Sabtu, 15 Juni 2024

Medsos sebagai Pilar Kekuatan Rakyat dalam Menghadapi Kekuasaan


  • Penulis Thomas Koten
  • Selasa, 28 Mei 2024 | 14:30
  • | Catatan
 Medsos sebagai Pilar Kekuatan Rakyat dalam Menghadapi Kekuasaan Ilustrasi: Media sosial semakin menunjukkan taringnya sebagai salah satu kekuatan yang semakin sulit dinego dalam gerakan roda demokrasi. (Net)

Oleh: Thomas Koten

DALAM era digital saat ini media sosial semakin menunjukkan taringnya sebagai salah satu kekuatan yang semakin sulit dinego dalam gerakan roda demokrasi. Pilar-pilar demokrasi lainnya seperti eksekutif, legislatif, yudikatif dan partai politik, seperti terdepak ke pinggir oleh kekuatan jejaring sosial yang dimotori facebook, twitter, istagram, youtube, tik tok, dan google.

Bahkan, ‘saudara sulung’ media mainstream seperti media cetak dan elektronik, seperti tv dan radio seolah tak berkutik menghadapi “sang adik’ medsos yang terus menggeliat mengeskplorasi dirinya tanpa kendali. Medsos seolah tampil ke depan sebagai motor penggerak utama ketika, institusi demokrasi lainnya seperti partai politik dan media mainstream tidak berjalan maksimal karena disumbat oleh kontrol sang rezim.

Dari hari ke hari kekuatan medsos sebagai pengendali jejaring sosial semakin menjadi kekuatan alternatif yang ampuh untuk membangun dan membentuk opini publik. Sejarah telah mencatat kekuatan medsos sebagai pembangun dan pembentuk opini yang ampuh yang bisa merontokkan keperkasaan sebuah kekuasaan.

Ingat pergolakan massa dalam menggulingkan kepongahan rezim otoriter di Tunisia dan rezim Presiden Husni Mubarak mesir beberapa tahun lalu di tahun 2020-2021. Kedua rezim itu rontok oleh karena aktivitas tukar menukar informasi lewat teknologi digital.

Medsos dan Demokrasi

Hasil survei IPS tahun 2022 memperlihatkan kepercayaan publik terhadap media; media mainstream mendapat porsi yang jauh lebih tinggi dibanding dengan medsos seperti facebook, twitter, istagram, youtube. Meddia mainstream adalah media cetak koran, majalah, tabloid, tv, radio. Perbandingan tingkat kepercayaan antara media mainstream dan medsos 74-12 persen.

Tetapi harus diakui bahwa kekuatan suara nitizen di medsos dari ke hari semakin kokoh. Karena jangkauan medsos ke publik jauh lebih tinggi daripada media mainstream. Itu terlihat dari minat publik terhadap media mainstream semakin turun jauh dibandingkan dengan medsos yang bisa dibawa ke mana-mana lewat handphne.

Karena begitu lekatnya medsos dengan masyarakat, maka medsos semakin dimanfaatkan sebagai media komunikasi antara anggota masyarakat baik kelompok masyarakat biasa maup]un dengan kelompok politik, ekonomi, sosial dan lain-lain. Sehingga medsos benar-benar telah menjadi kekuatan tanpa tanding dalam membangun institusi demokrasi.

Itu diakui oleh banyak ahli komunikasi publik, salah satunya Juhanne Schutts  yang mengatakan bahwa kemampuan adaptif teknologi digital semakin memiliki kapasitas untuk mempengaruhi kemampuan masyarakat demokratik.

Dan tak dapat dimungkiri demokrasi digital semakin menunjukkan keperkasaan dalam membangun dan membentuk opini publik untuk memenangkan perhelatan demokrasi mutakhir di Indonesia dan di berbagai negara. Lihat betapa dahsyat kekuatan demokrasi yang dibangun oleh pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo-Gibran dalam kerja politik, pemilu damai yang baru terselenggara. Kemasan pemilu satu putaran yang dibingkai lagu Oke Gas meski belum ada penelitian khusus, tetapi telah mnjadi media kampanye yang sangat efektif dan menghibur dengan pengaruhnya sangat tinggi untuk menggaet suara pemilih untuk memilih paslon 02.

Demokrasi ala digital yang semakin tak terbendung tersebut, meminjam istilah Jurgen Habermas, menjadi kondisi demokrasi yang disebutnya sebagai demokrasi deliberatif yang menjunjung tinggi hak-hak sipil. Dan fungsi media sebagai pembentuk opini publik, keberadaan medsos tak lain sebagai media solidaritas dan partisipasi politik masyarakat yang berperan penting bagi pembangunan demokrasi, shingga menjadi alat kontrol dengan alat kritik, alat evaluasi, alat pengawas sebagaimana fungsi dan peran media.

Kekuatan Sejati Rakyat

Karena itu, tiak bisa dicegah lagi bahwa medsos ke depannya akan menjadi kekuatan yang semakin dahsyat tanpa tandingan. Kata filsuf kenamaan Michael Foucault, bahwa kekuasaan yang kerap dipertontonkan rakyat dalam aneka cara dan bentuk dikatakan sebagai kekuatan-kekuasaan yang dalam arti sejatinya.

Bahwasanya, harus dipahami pertama-tama merupakan hasil dari keterhubungan kekuatan yang melekat pada banyak orang. Sehingga, peran medsos yang bisa menghubungkan dan menghimpun banyak orang dapat menjadi kekuatan publik yang dapat mengubah berbagai kondisi sosial dan politik hingga dapat mengubah berbagai keputusan politik penguasa yang lalim dan serakah sekalipun.

Cepat atau lambat kehidupan politik dan sosial semakin dikendalikan oleh anak-anak milenial penguasa teknologi digital;facebook, twitter, istagram, youtue dan tik tok tak lagi hanya sebagai ajang pertemuan dan hiburan semata, tetapi sbagai wadah partisipatoris politik warga negara dalam merespon isu-isu strategis demi kepentingan bersama.

Bersamaan dengan demokrasi yang terus berkembang, rakyat pun semakin menunjukkan eksistensi dan jati diri kekuasaanya di hadapan keperkasaan negara.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru