Sabtu, 15 Juni 2024

Quo Vadis Kebebasan Berekspresi dan Kebebasan Berpendapat


  • Penulis Thomas Koten
  • Jumat, 17 Mei 2024 | 13:30
  • | Catatan
 Quo Vadis Kebebasan Berekspresi dan Kebebasan Berpendapat Ilustrasi: era digital dengan hadirnya handphone android lalu lahirnya akun Facebook, Twitter, Youtube, Tik Tok . (Net)

Oleh: Thomas Koten

PADA era digital dengan hadirnya handphone android lalu lahirnya akun Facebook, Twitter, Youtube, Tik Tok yang menampilkan aneka tontonan dari yang mendidik dan menginspirasi, hingga yang mengganggu dan merusak akhlak benar-benar  membuat kita bingung dan tidak tahu lagi bagaimana menghadapinya.

Dan sejauh ini belum ada protes dari publik yang merasa terganggu dengan acara-acara atau tontonan-tontonan  yang membingungkan itu. Kelompok-kelompok humanis atau sekuler atau kelompok agama sebagai penjaga gerbang moral belum juga ada yang melakukan atau mengambil sikap terhadap tontonan-tontonan yang merusak akhlak.

Tentu kita sangat mengharapkan kelompok-kelompok ini tidak sedang kebingungan dari mana dan bagaimana melakukan protes untuk semua ini. Jangan-jangan semua orang terlena dan terbuai dalam menikmati tontonan yang menggiurkan seperti tontonan yang berbau pornografi yang benar-benar merusak akhlak bangsa.

Bagaimana kita melakukan kritik, kontrol atau protes terhadap semua itu. Kepada siapa publik mengadu, mengingat semua itu telah menjadi fenomena global yang benar-benar tampil tanpa ada lagi sekat-sekat yang bisa membentengi, yang bisa membatasi dan bisa mencegahnya. Memang dalam fenomena global tanpa sekat ini semua menjadi serba sulit. Semua seperti pasrah sambil membiarkan dunia berputar sendiri. Seleksi alam berjalan dengan sendirinya. Apakah ada lembaga sensor yang  sanggup membatasinya

Salah Kaprah Kebebasan

Ketika dunia berjalan dengan sendirinya dan semua acara hiburan dan tontonan lainnya dibiarkan dalam seleksi alam atau seleksi pasar ekonomi, maka pertarungan ekonomilah yang bermain dalam arus gurita kapitalisme.

Dalam hal ini, kapitalisme lah yang terus menjajah. Perlu diingat bahwa tatkala acara-acara dan tontonan terlalu mengedepankan peraihan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dalam dunia yang dijajah kapitalisme dengan menaikan tensi rating atau view pembaca, maka berapa lagi korban kerusakan mental dan moral atau akhlak, tak ada yang diherankan.

Kita tidak tahu dalam dekade terakhir sejak munculnya android, internet dengan jaringan medsos yang tanpa sekat ini sudah berapa pula orang yang hancur akibat seks bebas, perselingkuhan, perceraian, depresi, dan kesepian. Berapa juta anak-anak yang kecanduan medsos dan masuk ke rumah sakit jiwa anak-anak, dan lain-lain. Siapa yang mempedulikan itu

Yang jelas bahwa medsos sebagai anak kandung budaya massa seperti dikondisikan untuk menjungkirbalikan segala pertimbangan etis moral. Yang ada hanyalah seperti pragmatisme-konsumerisme yang mengurai geliat industri budaya massa yang melahirkan berbagai tontonan di medsos yang tidak peduli di titik nadir mana martabat manusia direndahkan.

Menurut filsuf Jean Baudrillard, manusia menjadi manusia yang tidak berdaya di dalam kekuasaan obyek sehingga hanyut dalam mekanisme dan logikanya, dalam hal ini logika gaya hidup hedonis dan seksis. Dan suka atau tidak suka, tontonan-tontonan yang merangsang libido hingga merusak akhlak, mental dan psikis bahkan hingga membunuh semuanya.

Tanggung Jawab Mral Bersama

Akhirnya, kita kembali kepada tanggung jawab moral etis bersama, bahwa kebaikan, keagungan atau kemuliaan bersama atau tumbuh kembang atau matinya  akhlak dan moral etis kehidupan bersama adalah tanggung jawab kita bersama.

Yang perlu dipikirkan adalah apakah perlu dibangun etika media sosial yang bisa menjadi lembaga sensornya. Semoga di tengah kebingungan dunia saat ini lahir pemikiran-pemikiran baru yang solutif untuk mencegah dan bisa mengendalikannya.

Kita tidak boleh terus-menerus berjalan dalam dunia tanpa kendali. Kita yang membuat dunia seperti ini, maka kita juga yang harus sanggup mengendalikan dan mengarahkannya ke kondisi yang lebih baik dan lebih bermartabat lagi. Kita juga tidak bisa berkelit dengan mengatasnamakan kebebesan dan berdemokrasi. Karena demokrasi dan kebebasan apa pun bentuknya tidak bisa keluar dari koridor etika media sosial dan kepantasan serta kepatutan publik.

Kita semua, terutama pihak-ihak yang lebih berkompeten masih punya hati dan kepribadian moral etis serta rasa akan tanggung jawab untuk bisa mengatasi masalah-masalah ini.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.                                                                                           

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru