Minggu, 19 Mei 2024

Membangun Budaya Ekonomi Petani Desa di NTT


  • Penulis Thomas Koten
  • Selasa, 14 Mei 2024 | 23:30
  • | Catatan
 Membangun Budaya Ekonomi Petani Desa di NTT Kelompok tani program hortikultura melalui Desa Berdaya untuk para petani di wilayah Poco Leok, Satar Mese, Kabupaten Manggarai, NTT. (etechno.id)

Oleh: Thomas Koten

PEMBANGUNAN desa merupakan pembangunan pada unit terendah sekaligus menjadi landasan bagi pembanunan bangsa dan negara. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya pedesaan menjadi potret kondisi sosial, ekonomi dan budaya nasional. Ini mengingat 75 persen penduduk Indonesia tinggal di pedesaan.

Ketika berbicara tentang pembangunan desa, orientasi pemikiran kita langsung bermuara pada pertanian para warga desa yang bertebaran dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Selain itu, sektor pertanian hingga kini juga masih memainkan peran penting dalam pembangunan nasional.

Dalam posisi tersebut, petani merupakan penyanggah utama kehidupan bangsa dan negara. Meskipun penekanan pada sektor industri dan teeknologi terus bertambah tinggi, tetapi pertanian masih berperan sangat signifikan. Sumbangannya pada produksi nasional masih  25 persen yang berasal dari angkatan kerja di mana subsektor perkebunan  15 persen dari angkatan kerja yang terserap di sektor pertanian.

Budaya Ekonomi Petani

Perlu dicatat bahwa pengelolaan dan pengembangan pertanian yang dilakukan olehh para petani di desa-desa seperti di Nusa Tenggara Timur –NTT-, tidak terlepas dari faktor budaya. Bahwa kebudayaanlah yang membentuk sekaligus dibentuk oleh petani desa dalam mengelola dan mengembangkan pertanian. Dalam mengelola pertanian, para petani selalu melakukan ritual-ritual tertentu mulai dari tahap menanam, merawat hingga memetik atau memanen.

Semua yang mereka lakukan itu merupakan bagian dari siklus kehidupan pedesaan yang berhubungan dngan siklus alam. Kebersatuan dengan siklus alam itulah yang membentuk logila pengelolaan pertanian, sistem menjaga dan merawat tanaman sekaligus dengan menjaga dan merawat alam sekitarnya.

Oleh karena itu, kehidupan petani dengan aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari tidak semata-mata sebagai pemenuhan kebutuhan fisik material semata, malainkan juga berfungsi dan berhubungan dengan alam gaib, alam metafisis atau alam supranatural. Dengan itu, ada kepercayaan bahwa hasil pertanian selalu ada campur tangan dengan alam gaib.

Filosofi dan pemahaman tentang pekerjaan bertani juga bukan semata-mata mencari keuntungan materi. Karena, tidak ada atau jarang petani yang bercita-cita menjadi kaya raya, tetapi lebih pada bagaimana mereka menjalankan kehidupan ini secara utuh. Antara kehidupan rohani dan kehidupan jasmani menjadi satu. Lewat proses bercocok tanam dan mengelola tanah dan lingkungan hidup di sekitar mereka, dalam arti dan makna kehidupan secara utuh dalam berelasi dengan lingkungan masyarakat, alam dan Sang Pencipta.  

Budaya ekonomi petani, khususnya petani di NTT yang perlu dipahami lagi adalah terkesan adanya budaya hidup boros. Ritual adat yang menyangkut pertanian, juga acara adat lain seperti kelahiran, perkawinan dan kematian kadang harus memakan biaya yang sangat besar, tetapi itu pun  mereka harus melakukannya karena berkaitan dengan harga diri dan kehormatan mereka dalam tata sosial masyarakat desa. Beban hidup yang berbalutan dengan utang pun ada di situ.

Perlu Budaya Kerja Baru

Budaya ekonomi pertanian seperti itu sudah berlangsung secara turun temurun, sudah bisa ratusan tahun lamanya. Apakah  budaya hidup petani seperti itu harus diteruskan dan perlu dibaharui?  Di sini perlu ada keberanian untuk melakukan pendekatan budaya, perlu ada terbosan-terobosan baru demi meningkatkan taraf hidup masyarakat tanpa menghilangkan budaya positif lainnya .

Kehidupan terus berjalan maju. Globalasi akan semakin memintal dunia. Maka pembaharuan kehidupan budaya petani di NTT juga harus dilakukan. Supaya kehidupan masyarakat desa secara perlahan terus berubah maju, bukan berjalan di tempat apalagi mundur. Inilah yang harus diperhatikan oleh para pemimpin di daerah-daerah seperti di NTT yang bersentuhan langsung dengan masyarakat desa yang memiliki budaya ekonomi petani seperti itu.

Akar budaya ekonomi petani seperti itu harus mulai dibenahi dan diarahkan supaya kehidupan petani mengalami peningkatan dan tidak terus menerus digenjot oleh cara berpikir dan tindakan karya petani dengan tata kehidupan globalisasi dengan tekknologi industri pertanian  yang semakin memekat dan meningkat.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru