Loading
Thomas Koten Analis SosialPolitik. (Foto Istimewa)
Oleh: Thomas Koten
MENGENAI kecerdasan intelektual, emosional, spiritual atau kecerdasan politik di kalangan elite, menarik pemikiran Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Hal ini kemudian dielabrasi oleh Reza AA Watimena, seorang peneliti dalam rumahfilsafat.com yang saya sitir beberapa pemikiran untuk kepentingan tulisan ini buat pembaca arahkita.com.
Sebagaimana Gardner, kecerdasan itu memiliki banyak bentuk, mulai dari kecerdasan musikal, logis matematis, gerakan tubuh sampai kecerdasan empatis dalam hubungan antarmanusia. Artinya, kecerdasan meliputi kecerdasan intelektual dan kecerdasan sikap serta rasa, juga dalam kaitannya dengan emsional dan lain-lain. Kecerdasan intelektual misalnya, mencakupi menalar, memecahkan masalah, memahami gagasan dan seterusnya
Belum lagi kecerdasan spiritual. Adalah kecerdasan jiwa-spirit yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh, terutama dalam kaitan dengan kemampuan seseorang dalam mendengarkan suara hati sebagai bisikan kebenaran yang berasal dari Tuhan untuk dijalankan dalam kehidupannya. Dengan itu, dia bisa beradaptasi dan berempati dengan kehidupan manusia, dimana manusia merupakan gambaran Allah di alam semesta.
Kecerdasan Intelektual, Spiritual dan Emosional
Dengan uraian di atas, maka apabila seseorang itu memiliki kesempurnaan dalam kecerdasan itu sendiri, maka dia bukan hanya memiliki kecerdasan intelektual saja, atau kecerdasan emosional saja atau kecerdasan spiritual saja.
Apabila seseorang hanya memiliki satu aspek saja, kecerdasan itu belum lengkap. Seseorang memiliki kematangan dan kedewasaan serta kepribadian yang utuh dalam hal kecerdasan berarti ia memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emsional dan kecerdasan spritual sekaligus.
Dengan kepemilikan kecerdasan yang utuh, intelektual, emosional dan spiritual ia akan memiliki nalar yang hebat, emosi yang terkendalikan, pencerahan batin yang mumpuni serta kemampuan dalam empati dan simpati yang mengagumkan. Dari gabungan kecerdasan itu dalam diri seseorang ia akan memiliki integritas dan kewibawaan serta kebersahajaan hidup yang menjadi teladan bagi kehidupan manusia seluruhnya.
Lalu bagaimana dengan kecerdasan politik. Dari beragam kecerdasan tersebut, satu aspek kecerdasan yang sering mencuat dakam diskusi publik adalah kecerdasan politik (political intelligence). Dan tema ini menjadi menarik sebagai pertanda desakan dan harapan publik kepada para politisi supaya menjadi politisi yang baik, bukan politisi busuk. Ini juga mengingat narasi dan nalar politikus kadang begitu dominan dalam pemberitaan media.
Dalam kaitan dengan kecerdasan politik ini, seorang penulis Amerika Ellen Vrama merumuskan beberapa ciri kecerdasan politik, yaitu integritas, kesadaran diri, empati, strategi dan eksekusi. Dengan demikian, seseorang politisi yang cerdas ia akan memengaruhi seseorang untuk tujuan-tujuan politik.
Dengan demikian, seorang politisi yang cerdas yang disokong oleh kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual, dia akan memengaruhi orang lain untuk menggiring kehidupan dan pemikiran politik kepada tujuan-tujuan luhur politik untuk menciptakan keutamaan-keutamaan masyarakat, bukan untuk menghancurkan kehidupan dan kemaslahatan masyarakat seluruhnya.
Seorang politisi yang cerdas, ia memiliki sikap empati yang baik. Empati sebagai dasar sikap saling menghormati. Ia sanggup melihat baik-buruknya sebuah kebijakan bernegara dari seorang pemimpin bangsa misalnya.
Yang menjadi masalah seperti yang dipertontonkan para elite politik di media sosial misalnya sangat tidak menunjukkan kecerdasan-kecerdasan itu. Ada beberapa politisi atau pengamat yang dengan sangat bangga memosisikan diri sebagai serang akademisi. Dengan begitu, berarti dia memiliki kemampuan intelektual atau kecerdasan intelektual yang mumpuni.
Tetapi, sayangnya, ia jauh dari kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. Itu sangat jelas terlihat dari tidak adanya rasa empati atau telah matinya rasa empati atau telah matinya kecerdasan spiritual sehingga tidak ada rasa hormatnya terhadap seorang atasan atau seorang pemimpin, termasuk seorang presiden sekalipun.
Jangan-jangan orang itu tidak memiliki kecerdasan apa-apa, apalagi kecerdasan spiritual. Atau lebih parah lagi, jangan-jangan orang itu ateis. Betapa celakanya generasi mmuda bangsa ini apabila banyak di antara mereka yang senang dengan seseorang yang memosisikan dirinya sebagai seorang akademisi tetapi seorang ateis. Sunggu ngeri dan miris.
Karena itu, yang diharapkan dari kaum elite negeri yang sering dimanfaatkan media sosial untuk tampil berdebat mewacanakan atau menarasikan pemikiran-pemikiran mereka di medsos memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan publik.
Sebagai sebuah bangsa yang beradab, tidak bisa seseorang seenaknya menjelekkan orang lain apalagi seorang pemimpin di ruang publik. Sesakit hatinya Anda terhadap seorang pemimin, Anda harus masih memiliki rasa empati terhadap sang pemimin. Itulah tanda Anda masih cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual serta politik.
Apabila Anda tidak memiliki rasa empati kepada pemimin bukan saja Anda tidak memiliki kecerdaan intelektual, emosional dan spiritual, sebenarnya Anda juga tidak memiliki kecerdasan apa-apa selain hanya mengagungkan logika berpikir yang menurut Anda sudah hebat, tetapi sebenarnya hanya sebatas “omon-omon” yang dungu.
Penulis adalah Analis Sosial-Politik.