Loading
Ilustrasi Vote Me. (Media Indonesia)
Oleh: Thomas Koten
KENDURI demokrasi sudah selesai digelar. Janji-janji manis para kontestan sudah selesai juga dengan kemasan-kemasan manis, artistik dan dramatis. Siapa pemimpin republik dan siapa saja para wakil rakyat yang memimpin negara ini lima tahun ke depan juga sudah terlihat jelas. Meski proses pemutusan pemenang pemilu masih berlangsung dalam tahap sengketa di Mahkamah Konstitusi.
Ada realisasi dari janji-janji politik para kontestan pasca penetapan kemenangannya? Apa pun jawabannya tampaknya semua itu tidak lebih daripada lagunya Bob Tutupoli, “Tinggi gunung seribu janji/Memang lidah tak bertulang/Tak terbatas kata-kata/Tingginya gunung seribu janji/Lain di bibir lain di hati.
Kemudian ingat juga lagu Titiek Puspa, “Cinta”. Mudahnya ia buat janji/Semudah ia ingkari/Alangkah kejamnya cinta/Alangkah pedihnya, kejam… oh kejam.
Rakyat sebenarnya sudah diajarkan oleh pengalaman yang menjadi guru terbaik dalam hidup, bahwa janji manis itu sebenarnya palsu. Kalaupun ditepati, itu hanya seujung kuku, paling seujung jari.
Topeng di Balik Janji
Panggung politik dan kehidupan bernegara, baik pada masa kampanye maupun pasca kampanye, condong seperti apa yang dikatakan oleh seorang humanis dari zaman Renaisance Desideramus Erasmus, diibaratkan sebagai sebuah komedi dengan tampilan para aktor bertopeng.
Para aktor bertopeng itu tidak menunjukkan wajah aslinya dan berkostum berbagai rupa memainkan peran untuk menghibur dan menarik simpatik penonton. Apa penonton juga sangat senang dan besemangat karena merasa terhibur. Ada tepuk tangan riuh dan ada gelak tawa lebar dan cekikikan
Desideramus menulis,“Kalau topeng dan hiasan ditanggalkan dari para aktor yang sedang bermain di atas panggung, terungkaplah wajah dan ekspresi sebenarya dari para aktor dan sandiwara pun langsung bubar.
Dan para penonton serta merta meneriakan dan mendesak mereka semua turun panggung lantaran kecewa. Karena aktor yang memainkan peran wanita cantik, ternyata seorang waria,myang bermain menjadi anak muda ternyata orang tua, dan yang memainkan raja ternyata seorang penggarong.
Pertanyaan kita, apakah para aktor politik kita di panggung politik Indonesia mutakhir ibarat panggung komedi dalam lukisan Erasmus itu? Yang jelas, para kompetitor politik pada pemilu yang baru lewat telah bersaha tampil elegan dan semenarik mungkin di depan rakyat.
Raut wajah mereka yang muram dan gelisah, penuh amarah, curiga, penuh emosi dan kebencian dibungkus rapat-rapat dan yang mereka tampilkan adalah wajah yang penuh senyum, dengan sikap yang sangat ramah, kadang agak mengemis dan merengek minta dipilih.
Namun, mereka lupa bahwa rakyat sebenarnya tahu bahwa yang mrreka tampilkan itu berupa pagelaran komedi yang penuh dengan topeng-topeng yang syarat kamuflase dan kebohongan. Selanjutnya, suatu saat topeng-topeng itu terlepas dan ditanggalkan, dan yang telihat adalah wajah dan perilaku asli mereka tanpa polesan dan dandanan untuk menarik simpatik rakyat. Sehingga, yang terlihat adalah wajah yang penuh bopeng. Perilaku yang memuakan juga kelihatan.
Lalu, apa yang terjadi kemudian? Mereka lupa bahwa rakyat selalu ingat dan catat perihal topeng apa yang mereka pakai saat kampanye kemarin.
Pesan Bijak Paryem
Kini demi kebaikan dan kemuliaan diri sekaligus demi harga diri dalam berpolitik dari para politisi, hendaknya mereka segera mengubah citra diri dan perilaku dalam berpolitik. Supaya dalam kehidupan sehari-harinya, rakyat tetap mencintai mereka kapan dan di mana pun. Minimal, apabila ingin maju lagi pada pemilu yang akan datang, Anda atau mereka kembali dipilih dan nama baik Anda dapat dibawa mati.
Jikan ingin agar hidup tetap bersahaja, ingat syair lagu Bob Tutupoli dan Titiek Puspa di atas, atau pesan bijak Paryem lewat syair karya Linus Suryai AG di bawah ini.
Jaman sekarang orang sabar dipercaya/Habis janji segala macam/Tidak perlu pakai saksi-saksi/Hanya demi langit dan bumi/Tapinya kosong melompong/Buahnya kanthong bolong tresna (Cinta) gombal/Habis manis saya ditinggal/Yang anda minta saya berikan/Sesudah taneg} (kenyang) saya kapiran (terlantar)
Hidup ini, suka atau tidak suka, akan terus berjalan maju menembus waktu. Jadi, jangan kau ingkari janji hari ini. Karena semua baik buruk seseorang, tak ketinggalan para politisi. Selalu dicatat dan diingat oleh siapa pun yang pernah mendengarnya.
Penulis adalah Analis Sosial-Politik.
.