Rabu, 14 Januari 2026

Nafsu Politik dan Sakit Jiwa Setelah Pemilu


  • Penulis Thomas Koten
  • Minggu, 24 Maret 2024 | 18:15
  • | Catatan
 Nafsu Politik dan Sakit Jiwa Setelah Pemilu Ilustrasi: Orang sedang mengalami gangguan jiwa. (Net)

Oleh: Thomas Koten

PEMILU Indonesia merupakan sebuah pesta rakyat yang sangat mahal. Ada puluhan triliun rupiah dikeluarkan pemerintah. Belum lagi biaya yang dikeluarkan oleh para kontestan, baik di eksekutif maupun ribuan caleg. Belum terhitung tenaga, waktu, pikiran yang dikeluarkan untuk pesta rakyat itu.

Mengingat begitu banyaknya pihak yang terlibat, maka pertarungan itu tampak begitu keras, berat dan penuh ketidakpastian. Namun, karena nafsu politik sekaligus syahwat merebut kenikmatan kekuasaan begitu tinggi, maka segala rasa cape dan lelah, seperti terkubur.

Masalahnya, kemenangan yang diraih dari pertarungan itu hanyalah segelintir orang, dan jauh lebih banyak yang mengalami kegagalan. Bayangkan, berapa ribu orang yang harus mengalami kekecewaan, stres dan sakit mental.

Depresi-Sakit Jiwa Politik

Orang-orang gagal tentu langsung mengalami tekanan mental yang hebat. Tekanan sosial, ekonomi dan politik serta merta berubah menjadi tekanan psikologis. Apalagi jika harapan untuk menangnya begitu tinggi membumbung di angan-angan hingga terekspos dalam mimpi malam.

Apabila kondisi tekanan mental atau tekanan psikologis itu begitu tinggi dan tidak dikelola dengan baik, dengan manajemen kesehatan mental yang bagus, akan bermuara pada terganggunya kesehatan mental atau masalah kejiwaan yang akut, yang disebut depresi serius.

Depresi adalah suatu perasaan yang dialami seseorang karena merasa kehilangan atau keterputusan hubungan antara masa lalu dan masa kini serta merasa gelapnya masa depan. Cita-cita masa depan menjadi tertutup dan terasa hilang. Kehilangan harapan dan kepastisan hidup membekap dalam diri, menyusup ke dalam rasa dan membeku di sana.

Depresi dalam berbagai media online, dimengerti sebagai gangguan suasana hati atau kondisi emosinal berkepanjangan yang menyebabkan seseorang terus merasa sedih, cemas, dan kehilangan semangat atau minat. Dalam istilah medis, depresi merupakan gangguan mental yang mempengaruhi perasaan, cara berpikir dan perilaku seseorang.

Gejala depresi bisa dirasakan seperti mengalami kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan. Perubahan berat badan dan nafsu makan. Merasa sedih, suasana hati kosong dan putus asa serta  gelisah. Juga mudah menangis, mudah marah. Sensitifitas menjadi sangat tinggi. Sulit berkonsentrasi, gangguang tidur, mudah sakit kepala, dan lain-lain. Selain itu, ada perubahan siklus menstruasi bagi wanita. Lalu, ada gejala yang fatal yaitu menyakiti diri sendiri, dan ada kecenderungan untuk bunuh diri.

Depresi akut alias gangguan mental atau sakit jiwa itu jelas akan dapat menggerogoti para caleg atau calon eksekutif yang kalah itu, apabila mereka tidak mengelola dengan baik perasaan antara  harapan yang tinggi melambung dan realitas yang menjerumuskan mereka ke dalam jurang yang sangat dalam.

Kerugian ekonomi yang tinggi, belum lagi timbul perasaan malu karena merasa turun citra diri di lingkungan sosial, bisa membuat seseorang menjadi kehilangan segalanya, terutama kehilangan kepercayaan diri. Yang lebih mengerikan jika ada caleg dan para calon ekseskutif itu menggunakan dana pinjaman dari pihak lain untuk biaya kampanye. Apalagi misalnya seorang caleg menggadaikan rumahnya untuk biaya pencalegan namun gagal. Sehingga, semua itu menjadi beban yang sangat mengerikan.

Apabila tidak kuat menghadapinya, dan tidak sanggup mengelola perasaan antara mimpi yang tinggi menjulang dan realitas keterpurukan atau keterjatuhannya yang sangat dalam itu, maka depresi dan sakit jiwa menjadi tak terhindarkan.

Gejala depresi yang serius dan akut terlihat mulai dengan tutur kata yang tidak terkontrol, mulai ngomong ngawur dengan arah yang tidak jelas. Pada tahap ini, penderita tidak boleh menyepelekan, karena kondisi itu sebenarnya sudah mulai masuk ke tahap sakit jiwa, sehingga harus segera ditangani.

Masalah-masalah yang menjadi sumber depresi itulah yang merupakan penyakit psikopatologi –psikologi politik sakit jiwa atau sakit mental-. Ketidakseimbangan antara nafsu politik yang tinggi dan realitas kegagalan, kemudian memicu pada depresi dan sakit jiwa, pertama kali diungkapkan oleh sang psikoanalis Sigmud Freud ketika mengobati Anna 0, gadis berusia 21 tahun, pasien yang terjangkit histeria. Anna menceritakan fantasi, khayalan pengalaman traumatik yang kemudian dipakai Freud sebagai bahan penyembuhan.

Eliminasi Sakit Jiwa Politisi

Karena depresi atau sakit jiwa umumnya disebabkan oleh beban masalah yang begitu berat menimpa, yang membuat politisi bisa merasa kehilangan harapan hidup, maka yang diperlukan adalah segera menciptakan harapan hidup. Di sini diperlukan sikap perdamaian hati dan pikiran antara masalah dengan diri pribadi. Sekecil apa pun harapan hidup itu harus segera dibangun dan dikembangkan.

Banyak cara yang sering dilakukan oleh para penderita gangguan kesehatan mental yang bisa diikuti. Misalnya, jangan pernah menyendiri dan merasa harus memikul beban sendiri. Berusahalah untuk mencari teman ngobrol. Pergilah keluar rumah berolahraga. Lakukan hal-hal yang menyenangkan, dan seterusnya.

Para politisi boleh dikatakan terdiri dari orang-orang berpendidikan, sehingga diharapkan sanggup membangun daya kreatif untuk mengembangkan imajinasi dan membangun harapan-harapan hidup. Sekecil apa pun harapan itu harus segera dibangun dan dikembangkan. Dari situlah akan muncul pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan bahwa di balik kabut hitam pekad itu pasti ada cahaya matahari. Di balik kegagalan pasti ada hikmah kesuksesan yang tertunda.

Penulis, seorang Analis Sosial dan Politik.

 

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru