Rabu, 14 Januari 2026

Psikologi Politik Menjelang Pengumuman KPU Tentang Hasil Pemilu


 Psikologi Politik Menjelang Pengumuman KPU Tentang Hasil Pemilu Ilustrasi Pemilu 2024. (Net)

Oleh: Thomas Koten

DALAM perhelatan demokrasi pemilu, ada beberapa tahapan politik yang sangat rawan. Adalah tahapan pada masa kampanye yang biasa diselipi dengan kampanye kotor, kampanye hitam atau black camaign, tahapan pemilihan atau hari pencoblosan, dan tahapan yang paling rawan, yaitu  pengumuman dan pasca pengumuman hasil pemilu yang biasanya diikuti dengan sengketa pemilu.

Bersyukur bahwa kampanye pemilu 2024 ini masih berjalan aman. Pemilu damai yang didambakan, boleh dikatakan terwujud. Demikian dengan masa atau hari pencoblosan, terlihat berjalan normal. Menariknya, dramturgi demokrasi pemilu 2024 berlangsung dengan sangat meriah, ditambah dengan liputan media yang sangat virtualistik.

Terutama pada masa kampanye, paslon 02 yang melakukan suatu kemasan kampanye yang diiringi musik dengan lagu “Ok Gas-Tabrak-tabrak Masuk”, kemudian dibarengi dengan joget “Ok Gas” ala Prabowo, membuat kesemarakan dan kemeriahan kampanye menjadi sangat terasa. Pemilu yang disebut sebagai sebuah pesta demokrasi di mana rakyat menunjukkan eksistensi jati dirinya dalam demokrasi sangat terlihat.

Psikologi Politik Menuju Hari Pengumuman Hasil Pemilu

Sekarang tinggal bagaimana bisa terwujudnya suatu suasana penuh kedamaian pasca pencoblosan terutama pada saat pengumuman hasil pemilu dan sesudahnya yang kemungkinan berlanjut pada sengketa pemilu. Sebuah momentum politik demokrasi perhelatan pemilu yang paling rawan.

Momen tersebut yang biasa dikatakan sebagai momen tragedi pasca pemilu yang bersenyawa dengan psikologi kekecewaan politisi dan masa pendukungnya yang kalah. Apakah orang-orang yang kalah akan langsung mengangkat bendera mengaku kalah dan menghormati keunggulan lawan secara bersahaja (friendly enemy)- istilah Chantal Muffe atau melampiaskan kekalahan dengan berbagai aksi brutal?

Untuk mewasadai situasi ini perlu ada suatu  penelitian perilaku massa politik yang dalam hal ini disebut sebagai psikologi politik Cottam dkk, menukil organ kepribadian politik massa yang perlu dilakukan yang mencakupi unsur-unsur emosi massa pendukung.

Mencermati perilaku elite yang kalah yang dikawinkan dengan massa pendukungnya, sebenarnya sudah bisa dilakukan dan dicermati dengan menelusuri berbagai aksi massa dari kelompok mereka selama ini. Kerja intelijen pasti sudah  bermuara ke situ.

Dalam psikologi politik, situasi di sekitar pengumuman kemenangan pemilu selalu identik dengan konflik, bisa berskala kecil, bisa berskala besar, dan meluas. Skala luas dapat terjadi apabila para kontestan kurang menerima kekalahan kemudian sikap dan perasaan itu bersenyawa dan mengkristal dengan kekecewaan akibat harapan-harapan yang terlalu besar dari masa fanatik yang merasa tidak terpenuhi ambisi politik mereka.

Untuk itu, berbagai sumber konflik harus dicermati, diantisipasi dan dikelola. Berbagai sumber konflik itu, saya menyitir ulang tulisan saya di harian Republika 9/7/2014 untuk pembaca.

Pertama, eforia kemenangan berlebihan dari para pihak yang menang dengan para pendukung fanatiknya. Itu bisa membakar emosi massa dari pihak yang kecewa karena kalah. Sehingga, terciptalah praktik vandalistik yang bermuara konflik.

Kedua, fanatisme berlebihan dan telah berurat-berakar pada ikatan primordialisme dan toleransi ideologis yang sudah lama terbangun. Terjadinya vandalisme pada kelompok ini  mudah tersebar dan gampang memengarhi kelompok lain untuk ikut melakukan gerakan bersama.

Ketiga, interpretasi situasi (intepretation situation)} yang salah dari masa politik yang kalah. Ini berkaitan dengan nomor pertama di atas, bahwa gerak-gerik pesta pora dari pihak yang menang dalam spirit eforia yang tinggi, disalahartikan sebagai ejekan atau hinaan, maka menyembullah suatu situasi penuh kekacauan).

Keempat, kompilasi kecurigaan yang tinggi tentang adanya kecurangan. Untuk pemilu 2024, hal ini cukup mencolok dalam kacamata publik politik umum, terutama dari pihak pasangan yang kalah. Itu dipeparah lagi dengan provokasi dari kaum elite negeri baik langsung maupun tidak langsung, -yang dalam tulisan saya sebelumnya di kolom ini disebut kaum elite yang telah diraasuki spirit nekrofilia –spirit membunuh kelompok yang lain.

Kelima, ketiadaan sikap dan perilaku politik yang sportif dan ikhlas dari pasangan capres dan cawapres yang kalah, kemudian memprofokasi massa pendukungnya yan fanatik. Ini harus menjadi catatan mengingat sikap menerima kekalahan dengan ikhlas belum menjadi kultur demokrasi kita.

Keikhlasan Berpolitik

Masalahnya kini adalah bagaimana blundelan perilaku anarkisme atau radikalisme massa yang bersenyawa dengan sikap fanatisme yang berakar  alam ikatan primordialisme yang mengental yang disulut oleh sejumlah faktor di atas dapat dikelola dan diatasi dengan baik.

Itu diperlukan keikhlasan politik siap memang siap kalah yang dibaluti keikhlasan politik dan kebesaran jiwa dalam berpolitik dari pihak yang kalah. Dari meekalah bisa tekendalinya emosi pendukungnya dapat dicegah untk tidak bersikapa anarkis.

Di sini, kerja intelijen menjadi faktor penentu dalam mencari simpul-simpul lahirnya aksi anarkis. Saya yakin para intelijen mengetahi semua itu, karena bagaimana pun setiap aksi demonstrasi massa, selalu ada yang membiayainya. Sudah bukan rahasia lagi di negeri ini terkenal dengan aksi demo bayaran.

Di atas semua itu, akhirnya kembali kepada kecerdasan hati kita dalam berpolitik. Apakah memang ada untungnya apabila terjadi kerusuhan massal yang dibarengi dengan jatuhnya korban misalnya, siapa yang untung dan siapa yang buntung.

Rakyat tetap tidak mendapatkan apa-apa dari hasil politik ini. Rakyat kembali hanya berkorban, dijadikan korban atau  dikorbankan.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik. 

 

 

 

Editor : Farida Denura

Catatan Terbaru