Minggu, 03 Mei 2026

Politik Sakit Hati, Tak Ada Obatnya


 Politik Sakit Hati, Tak Ada Obatnya Thomas Koten adalah Analis Sosial-Politik, tinggal di Tangerang. (Foto: Istimewa)

Oleh: Thomas Koten

HIDUP manusia penuh dengan masalah. Ada masalah besar dan ada masalah kecil.  Di wajah kita semua,  kalau boleh dibilang, berlumuran masalah. Tak ada hidup tanpa masalah.

Orang besar punya masalah besar. Orang kecil–bukan dalam arti fisik-, punya masalah kecil. Kehebatan dan keberhasilan setiap orang tergantung dari sejauh mana orang itu bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Dari masalah-masalah itulah karakter seseorang dibentuk.

Tetapi, banyak juga masalah yang tidak bisa diselesaikan, lalu membekas dalam hati dan terus memengaruhi pikiran dan perasaan. Sehingga, masalah-masalah itu berujung pada kekecewaan yang mendalam dan sakit hati.

Memang, sakit hati bukan saja menyangkut putus cinta dengan kekasih atau pasangan suami istri. Tetapi banyak sekali masalah bisa yang berujung pada sakit hati kalau tidak dikelola dengan baik.

Sakit Hati dalam Politik

Bagaimana jika sakit hati itu berkaitan dengan politik? Bukankah dunia politik itu banyak ditaburi masalah-masalah pelik yang berefek pada kekecewaan dan sakit hati? Misalnya, akhir-akhir ini terlihat, terbaca dan terdengar jelas bahwa banyak politisi yang sakit hati, sehingga mereka dikelompokkan sebagai orang-orang yang sakit hati atau barisan sakit hati?

Seperti yang kita lihat, banyak politisi yang sangat emosional terhadap Presiden Jokowi atau Gibran yang kini menjadi cawapres, sehingga narasi-narasi yang mereka lontarkan tampak sekali mencerminkan politik sakit hati itu. Kenapa mereka terlihat sangat emosional atau apa yang membuat mereka begitu emosional?

Apabila dirunut ke belakang, mengikuti jejak para politisi di tataran elite, yang masuk dalam kelompok barisan sakit hati, yang selalu menarasikan kejelekan Jokowi, pasti bisa kelihatan dengan jelas  ada indikasi bahwa mereka pernah merasa dikecewakan oleh rezim Jokowi entah karena direshuffle dari kabinet, atau misalnya kehilangan proyek, dipecat dari komisaris BUMN, dan lain-lain. Percaya tidak percaya, buka medsos dan lihat jejak digital mereka.

Lalu bagaimana? Kata filsuf Rene Descartes, politic is vuil, politik itu kotor dan kejam. Meski kata filsuf klasik Yunani, Aristteles, politik itu indah, suci dan sangat mulia. Soal politik itu kotor atau suci, sudah terjadi banyak perdebatan di kalangan para filsuf sepanjang zaman.

Apa pun itu, yang jelas, karena politik itu ada sisi kejam, bengis dan kotor, ala Descartes, maka jangan coba-coba masuk ke gelanggang politik kalau tidak siap untuk kecewa dan sakit hati. Sebagaimana halnya dalam pemilu, para kontestan harus benar-benar siap menang dan siap kalah.

Kalau tidak siap kalah dan hanya siap menang, Anda pasti kecewa dan sakit hati kalau akhirnya Anda kalah, lalu mengorek-ngorek kelemahan pihak yang menang dan mengkambinghitamkan semua yang terlibat dalam proses pemilu, baik pemerintah maupun KPU. Yang terjadi, “Buruk muka cermin dibelah”.

Intinya, karena realitas politik sudah seperti itu, kejam, bengis dan kotor, maka Anda harus realistis dan logis. Bila perlu ikut kejam dan bermain kotor?, seperti kata Descartes. Artinya, jika Anda sudah siap memutuskan diri untuk terjun ke areal politik yang kejam dan kotor, maka Anda tidak boleh baperan, cengeng dan lebay seperti kanak-kanak, main perasaan. Anda harus benar-benar logic.

Selain itu, Anda juga harus ingat juga bahwa di zaman medsos saat ini dan di tengah alam demokrasi yang demikian terbuka, sang penguasa media publik adalah nitizen yang jumlahnya jutaan. Para nitizen adalah orang-orang tak berwajah, tetapi setiap saat Anda bisa diberondong kalau Anda tipe potitisi baperan, lebay, dan cengeng alias kekanak-kanakan. Kalau tidak kuat iman, tidak punya mental 1000  nyawa, jangan coba berpolitik gaya baperan dan lebay, kalau tidak mau diteror oleh para nitizen penguasa medsos tak berwajah, tapi kadang sangat sadis dalam memberondong dan merujak Anda.

Artinya jika ingin masuk ke gelanggang politik, jangan pernah sakit hati, minimal kalau sakit hati jangan kelihatan dari mata atau amatan para nitizen. Anda pasti pahan watak nitizen Indnesia yang termasuk kejam. Para nitizen bisa membela Anda habis-habisan tetapi sebaliknya juga bisa merujak dan menguliti Anda tanpa ampun.

Nitizen adalah manusia-manusia yang juga punya masalah dalam kesehariannya. Sehingga, hati-hati jika Anda adalah para politisi yang siap dijadikan obyek pelampiasan masalah mereka, kekecewaan mereka dalam menghadapi kehidupan hariannya dan luapan emosi-emosi sosial mereka.

Tak Ada Obatnya

Prinsipnya, dalam berpolitk tidak boleh sakit hati. Tetapi, bagaimana kalau sudah sakit hati? Anjuran saya kembalilah ke semangat awal, membangun kembali motivasi awal berpolitik Anda sambil bertanya kepada diri sendiri, untuk apa Anda berpolitik, untuk apa harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk berjudi dalam pertarungan perebutan kekuasaan. Semangat awal saat hendak masuk ke gelanggang politik harus dijernihkan dan diputih-sucikan.

Konseling untuk penyembuhan sakit hati dan aneka petunjuk lain, bisa dilakukan untuk menyembuhkan hati hati, tetapi intinya semangat awal saat menjadi politisi harus dijernihkan.  Itu yang paling penting dari semua materi dan bentuk konseling yang didapat.

Bukankah berpolitik itu bertujuan untuk ikut terlibat dalam usaha menyejahterakan rakyat sebagaimana tujuan dan hakikat dasar dari politik itu sendiri?

Jangan-jangan Anda berlitik karena ingin kaya, ingin menikmati segala priviledge yang disediakan di panggung kekuasaan, ingin dihormati, ingin naikkan gengsi dan sejenisnya? Kalau itu tujuan Anda dalam berpolitik, Anda sangat pantas sakit hati, dan itu tidak ada obatnya. Karena Tuhan juga tidak akan membantu Anda.  Dan  sakit hati Anda, hanyalah malu-maluin.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

 

Editor : Farida Denura

Catatan Terbaru