Loading
Ilustrasi: Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan elit politik bersama Presiden Jokowi. (Liputan6.com)
Oleh: Thomas Koten
ETALASE ruang publik negeri ini sedang disesaki narasi-narasi yang penuh dengan kebencian, terutama di kalangan elit politik tanah air. Entah karena kecewa, sakit hati atau karena beban psikologis yang terlalu berat akibat kerugian materi yang mereka derita, sehingga mencederai kesucian hati mereka. Atau, karena sudah bawaan dari kecil dimana dalam diri mereka sudah terbiasa overdosis prasangka dan penuh apriori.
Apa pun itu, serangkai masalah tersebut membuat kita bisa menelisik dan menelusuri lebih jauh tentang kenapa elit politik negeri ini ada yang tampak pada wajah mereka begitu penuh dengan kebencian. Sehingga, sikap mereka terlihat jauh dari rasionalitas dalam membela kepentingan politik sesaat. Yang ada hanya memojokan, menyalahkan, menuduh dan menghina lawan-lawan politiknya.
Di mata mereka, seolah lawan politik tidak ada lagi kebaikan, tidak ada lagi ketulusan, tidak ada lagi sisi etisnya. Padahal, rakyatlah wasit terbaik dan yang paling jeli melihat semua itu karena punya hati nurani yang bersih, sehingga rakyatlah yang paling tahu siapa yang paling cocok untuk memimpin mereka.
Ingat bahwa rakyat tidak punya kepentingan apa-apa dalam memilih presidennya. Karena itu, rakyat tidak perlu mencari muka dengan berbuat sesuatu untuk menyenangi capres atau cawapres tertentu. Intinya, rakyat yang tidak punya kepentingan, pasti lebih jernih dan cerdas dalam melihat sesuatu yang berkaitan dengan calon pemimpinnya.
Berbeda dengan elit politik yang mempunyai banyak kepentingan di balik kerja politik mereka, entah kepentingan kursi kekuasaan, kepentingan proyek, kepentingan materi dan lain-lain, sehingga mereka perlu mencari muka, membela dan memuji bahkan menyembah calon presiden dan calon wakil presidennya.
Masalahnya, kenapa mereka harus membela kepentingan politik dirinya dan jagoannya dengan menaburkan wajah penuh kebencian yang begitu tinggi kepada lawan politiknya? Jangan-jangan mereka telah dirasuki watak dan kepribadian serta sifat senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang-SMS ?
Mengenali Psikologi Kebencian Elit Politik
Di sini kita mencoba membaca peristiwa dan masalah sosial sekaligus sisi psikologis yang kira-kira telah merasuki hati dan pikiran elit politik negeri, sehingga anasir-anasir kebencian benar-benar terpancar dari wajah dan narasi-narasi yang mereka lontarkan. Hal itulah yang membuat mereka kesulitan untuk menerima kekalahan politik yang harus dialami jagoannya. Padahal, jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan gelar sarjana yang mereka sandang, sikap penuh kebencian sebenarnya tidak pantas melekat pada diri mereka.
Dalam hal ini, pemikiran psikologi kebencian dari Robert J. Sternberg bisa dijadikan sebagai rujukan untuk tulisan ini. Dalam teorinya sekaligus bukunya, The Psychology of Love, dia menguraikannya secara menarik tentang segi tiga cinta, intimacy-passion –commitment. Tapi, kebencian merupakan kebalikan dari tiga unsur itu. Robert merumuskan beberapa poin yang menjelaskan kenapa seseorang membenci orang lain, terutama orang-orang yang dianggap lawan yang membuatnya jatuh, kecewa dan sakit hati.
Pertama, prasangka-prejudice dan curiga. Karena kecurigaan dan prasangka yang menyengat hati, membuat seseorang terjerumus dalam sikap penuh kebencian terhadap orang-orang yang menjadi lawan dan dianggap telah membuatnya kecewa dan sakit hati tersebut.
Kedua, overgeneralization (generalisasi yang berlebihan). Ini membuat seseorang menyamaratakan suatu kasus dengan kasus yang dihadapinya. Contoh, karena melihat Gibran itu anak presiden, yaitu Presiden Jokowi yang masih aktif menjabat, sehingga segala sisi baik dari Gibran disingkirkan semuanya, dan yang ada hanyalah sisi buruknya seperti ketidakpantasannya menjadi capres karena sudah melanggar etika, usianya belum 40 tahun, gayanya kepribadiannya, dan lain-lain. Di sini apa pun alasannya, yang penting Gibran harus disingkirkan.
Ketiga, autamatic thought (pikiran otomatis). Ini berkaitan dengan nomor kedua, bahwa dalam alam bawah sadarnya karena benar-benar sudah dirasuki perilaku kebencian, sehingga secara otomatis, kebaikan apa pun yang dilakukan oleh lawan politiknya, seperti semuanya jelek, karena itu harus digagalkan dengan cara apa pun.
Contoh, meski hak angket itu sangat sulit diwujudkan karena masalah waktu yang sudah mepet dan masalah-masalah lain yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan oleh DPR, masa bodoh, yang penting hak angket harus jalan. Pencalonan Gibran jadi cawapres harus dianulir, kalau perlu Jokowi harus lengser
Solusinya?
Akan menjadi hal yang sangat serius bagi bangsa ini jika para politisi di tataran elite, sudah dijejali perilaku penuh kebencian, sehingga mereka menjadi stres, susah melihat lawan politiknya senang berpesta pora merayakan dan menikmati kemenangan pemilu.
Orang yang memiliki kepribadian dan perilaku yang penuh kebencian, sesungguhnya mereka telah mengalami gangguan mental dan kelemahan sisi psikologis yang serius. Mungkin hal itu kurang disadari. Maka di sini diperlukan psikoterapi perilaku politik yang penuh dengan kebencian itu, seperti negative thinking diubah menjadi positive thinking.
Kayaknya banyak elit politik negeri ini perlu pembaharuan hati dan pikiran serta penyucian jiwa agar tidak terus menerus melekat pikiran dan hati yang penuh kebencian supaya tidak lagi mengeluarkan narasi-narasi yang penuh kebencian itu.
Apabila tidak dilakukan psikoterapi perilaku dan pembaharuan pikiran dan hati, dikhawatirkan perilaku negatip itu bisa dilampiaskan kepada orang-orang terdekat seperti anak dan istri di rumah, atau teman dekat, ketika ruang publik politik sudah tertutup dan tidak lagi menampung narasi-narasi kebencian dan lainnya yang selama ini telah menjadi media penyalurannya.
Berbahaya!!!
Penulis adalah Analis Sosial-Politik.