Loading
Ilustrasi: Medsos dan anak milenial di panggung politik. (Net)
Oleh: Thomas Koten
BANYAK hal menarik yang terpotret dari drama politik pemilu yang baru selesai. Kita lihat bagaimana semua senjata dipakai oleh para kontestan untuk memenangkan pemilu, seperti pengerahan logistik dan perang opini yang bermuara pada pemolesan citra kontestan.
Memang, salah satu strategi jitu dan mutlak digunakan oleh para kontestan, selain kampanye manual pengerahan massa, adalah publisitas lewat berbagai media cetak dan elektronik. Koran majalah, spanduk, benner, baliho, billbord, semuanya dimanfaatkan secara maksimal.
Namun, pada era digital ini, media sosial atau medsos menjadi primadona, dimana kaum milenial atau kaum muda sebagai pengguna utamanya. Karena medsos memiliki jangkauan publisitas yang sangat luas, bukan saja bisa menembus tembok dinding kamar pribadi, tetapi juga hingga dibawa ke mana saja.
Medsos, seperti internet, facebook, whatsapp, twitter, youtube, instagram, google, telah menjadi tren terkini dan primadona untuk memperkenalkan kontestan, menggiring opini dan persepsi publik.
Meskipun pola kampanye konvensional seperti pengeraham massa masih penting. Kampanye konvesional tanpa diikuti oleh peran medsos ibarat sayur tanpa garam.
Eranya Generasi Z
Dalam perkembangan politik dengan menggunakan peran media, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama sekali, yaitu awal abad ke-20 yang dimulai dengan sebuah gerakan yang dilakukan Fasisme di Jerman dan Italia yang menggunakan media sebagai alat komunikasi pembunuhan karakter lawan politik sekaligus pembangunan citra politik. Dalam perkembangan selanjutnya, terutama sejak munculnya teknologi digitial, seperti facebook, whatsapp, instagram, twitter, youtube, google, komunikasi politik lewat medsos menjadi primadona.
Sebelumnya, televisi digunakan sebagai panggung utama yang diikuti media cetak untuk mempromosikan figur karena televisi memiliki jangkauan publisitas yang luas. Namun, sejak era android muncul, medsos menjadi primadona yang tidak terbantahkan. Lewat medsos, terutama youtube, persepsi publik mudah dibangun dan diarahkan.
Terbangunnya persepsi publik adalah awal kemenangan politik tercipta. Hal ini mengingat di atas panggung politik dan dalam seni komunikasi politik yang sanggup meyakinkan publik dan berhasil memengaruhi persesi publik, setengah kemenangan sudah bisa diraih, tinggal membangun keyakinan- keyakinan lainnya, seperti pematangan program dan pemolesan citra sang figur.
Artinya dengan semakin menjadi primadonanya medsos dalam marketing politik, tim pemenangan para kontestan pun tampak semakin lihai menggunakann aneka varian teknologi digital untuk praktik kampanye pemenangan seperti website blog dan aplikasi mobile. Misalnya, pemilu bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi digital yang akhirnya dikenal dengan sebutan e-voting. Dukungan publik lalu ditanggapi dengan penggalangan media melalui medsos.
Sebuah penelitian yang dilakukan We Are Social, sebuah perusahaan di Inggris memberikan data berupa informasi mengenai medsos yang populer di Indonesia setiap tahun. Penelitian dilakukan dalam kerja ama dengan Hoosuite, sebuah situs layanan manajemen konten asal Kanada. Penelitian itu mengatakan bahwa media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia saat ini adalah youtube, whatsapp, facebook, instagram twitter, dan google.
Medsos, khusunya youtube sebagai audio visual, dapat digunakan untuk kampanye yang akurat. Sehingga, para kontestan tidak perlu mencetak brosur, atau beriklan di televisi yang mahal biayanya. Pemasangan benner, spanduk, baliho, bisa saja dilakukan, tetapi bisa tidak maksimal. Medsos merupakan satu bentuk kampanye di era digital yang murah dan efektif.
Penggunaan medsos sebagai alat kampanye tampak lebih bebas karena bisa diangkses oleh banyak orang secara bebas tanpa batasan. Tentu berbeda dengan televisi yang dibatasi oleh berbagai peraturan yang lebih ketat, seperti prinsip independensi, imparsial dan netralitas. Karena televisi ada aturan berupa UU No. 32/2002 tentang penyiaran, frekuensi sebagai ranah publik yang hakikatnya merupakan milik negara dan harus dikuasai oleh negara.
Penggunaan medsos menjadi sangat penting dan primadona saat ini disebabkan oleh pertarungan politik yang dalam era demokrasi kontemporer yang memutlakkan kompetensi untuk memengaruhi sebanyak mungkin orang dalam waktu yang relatif singkat. Karena medsos dengan aneka varian itulah yang mampu mengjangkau khalayak sebanyak-banyaknya yang begitu intens, masif dan privat.
Anak Milenial Penguasa Panggung Politik
Pemilu 2024 ini, tampak sekali semua pasangan capres-cawapres begitu cerdas memanfaatkan medsos sebagai media kampanye untuk marketing politik pemenangan pemilu.
Terlihat jelas, pasangan yang memiliki modal kuatlah yang menguasai medsos. Seperti pasangan capres-cawapres n urut 02 Prabowo-Gibran yang punya modal kuat dan didukung oleh tim koalisi yang mumpuni, tampak begitu menguasai medsos. Kemudian diikuti dengan pasangan 03 dan yang terakhir pasangan no urut 01. Setidaknya itu dalam penilaian pribadi.
Terlepas dari guratan takdir dan garis tangan yang menentukan siapa pemenang pemilu 2024, harus diakui siapa yang menguasai medsos dan sanggup menggiring persepsi politik yang positif kepada publik lewat medsos, dialah pemenang pemilu 2024. Dan pengguna medsos yang paling besar adalah anak usia muda yang dikenal dengan generasi z atau geng z, atau anak-anak milenial yang berusia 17-34.
Realitas itulah yang dibaca oleh pasangan nomor 02 Prabowo-Gibran yang memang sejak awal mengangkat Gibran menjadi cawapres untuk merebut suara kaum geng z. Hingga saat ini, terlepas dari menang atau tidaknya Prabowo-Gibran, terlihat sekali elektabilitas hasil survei sejumlah lembaga survei Prabowo- Gibran memenangi pemilu 2024. Kita tunggu hasilnya.
Penulis, Analis Sosial dan Politik.