Loading
Thomas Koten adalah Analis Sosial Politik. (Foto: Istimewa)
Oleh: Thomas Koten
TANPA mendahului ketentuan Ilahi, ketika tulisan ini dibuat, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka belum memperoleh kemenangan secara definitif. Karena euforia kemenangan Prabowo-Gibran baru lewat hasil Quick Cuont. Sedangkan kemenangan definitif masih menunggu hasil rekapitulasi yang dilakukan KPU secara berjenjang mulai dari setiap TPS lalu ke setiap Kecamatan, diteruskan ke tingkat Kota/Kabupaten hingga ke KPU RI. Hanya menariknya, kemenangan yang diraih Prabowo-Gibran dari hasil quick cuont dapat dikatakan signifikan karena hingga 59%
Jadi, tampak sekali terjadinya eksodus besar-besaran suara mengalir ke kubu pasangan Prabowo-Gibran, terutama dari PDIP. Promosi politik dari pasangan Prabowo-Gibran yang diperankan oleh ke-9 partai pendukung koalisi bersama para relawan dan simpatisan di seluruh negeri dengan misi menang satu putaran, terlihat sangat ampuh. Tema kampanye Riang Gembira yang diiringi lagu “OK Gas, Tabrak- Tabrak Masuk”seperti mampu menggelorakan dan membius para calon pemilih di seluruh negeri.
Apa yang menjadi simpul kunci kemenangan Prabowo-Gibran dengan suara kemenangan yang signifikan versi quick cuont?
Ketulusan Hati Prabowo untuk Mengabdi Negara
Bagaimana menjawab pertanyaan di atas? Tanpa menafikan peran yang sangat penting dari Gibran sebagai pasangan serasi yang saling melengkapi dalam mendongkrak suara pasangan nomor 02, tulisan ini lebih fokus pada pembahasan tentang ketulusan hati dan kebesaran atau keagungan jiwa Prabowo dalam mengabdi negara selama ini yang dilihat oleh publik yang akhirnya berani menjatuhkan pilihan politiknya pada Prabowo-Gibran.
Bahwa ketulusan hati dan kebesaran serta keagungan jiwa yang dimiliki Prabowo menjadi awal yang sangat menentukan dari perjalanan panjang menuju puncak kemenangannya. Lalu, ditambah lagi dengan keinginan besarnya mengabdi negara di sisa hidunya, setelah dua kali kalah atau gagal menjadi Presiden setelah dikalahkan oleh Joko Widodo, benar-benar menambah simpati rakyat.
Ketulusan hati dan keagungan serta kebersihan jiwa Prabowo itu diawali mantan Danjen Kopassus ini dengan memilih seorang anak muda, yang tampilannya sangat kontroversial, lewat jalur MK menjadi cawapres untuk mendampinginya, yakni Gibran Rakabuming Raka. Ketepatan Prabowo dalam memilih Gibran, tentu disinari oleh ketulusan hati dan kejernihan berpikir dan kebersihan jiwanya. Tanpa modal itu, Prabowo bisa salah menjatuhkan pilihannya.
Atas dasar inilah, kemudian membentuk kepribadian agung dalam diri Prabowo. Jiwa agung Prabowo, cermin keagungan seorang pemimpin ini sudah begitu jelas terlihat ketika pada debat capres ke-5 atau debat terakhir, dimana Prabowo menyampaikan permohonan maaf kepada pasangan Anies Baswedan- Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD, meski seperti yang kita semua lihat pada dua kali debat sebelumnya, Prabowo mendapat “hinaan” atau bullian dari Anies dan Ganjar.
Keagungan jiwa seorang pemimpin merupakan suatu karakter yang tidak bisa ditawar-tawar lagi pada tataran kepemimpinan negara yang besar seperti Indonesia. Kata sisiolog kenamaan Max Weber, tentang keagungan atau jiwa agung seorang pemimpin itu bukan saja berdiri sebagai panutan atau contoh masyarakat, tetapi juga merupakan tokoh sentral yang mempunyai peran strategis dalam menentukan perkembangan budaya dan perdaban bangsanya. Kata-kata bijak yang melekat pada keribadian agung, melengkapi kesempurnaan diri seorang pemimpin.
Kharisma Prabowo lahir dan terpancar dari kepribadian agung seperti itu. Perihal kharisma pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Troesrsch yang diartikan sebagai orang yang memiliki kewibawaan yang luar biasa dan istimewa dalam menjalankan kepemimpinannya. Kharisma, dalam budaya Jawa diperoleh seserang atau tokoh lewat tapa brata, tirakat dan puasa untuk mendapatkan pulung atau wahyu.
Sehingga diyakini memiliki kekuatan supranatural, atau terbentuk secara alami lewat tempaan alam dalam kehidupan sehari-hari dari pahit manis dan getirnya menjalani kehidupan.
Hal itu, kemudian ditambah lagi dengan gagasannya dalam memaparkan visi dan misi serta program kerja 5 tahun yang disampaikannya secara sederhana, jelas dan tegas, yaitu meneruskan program Presiden Jokowi, itu yang membuat rakyat yakin untuk menjatuhkan pilihan politik padanya. Lain dengan program perubahan yang dikampanyekan oleh pasangan Anies-Muhaimin yang bagi rakyat membingungkan dan mengkhawatirkan.
Bapak Persatuan dan Kerukunan
Satu hal lain yang menonjol dari kepribadian Prabowo adalah bahwa keberanian, ketegasan, dan kewibawaannya itu diikuti dengan komunikai politik yang mampu menggugah dan menyalurkan energi positif bagi rakyat untuk bersama-sama membangun Indonesia menuju Indonesia Emas, 2045. Apalagi dalam setiap pidato pada saat kampanyenya, terutama pidato pada saat usai mengikuti penayangan quick cunt di Gelora Bung Karno, yakni menjaga persatuan, kerukunan dan perdamaian sesuai pesan para leluhur bangsa. Sehingga, Prabowo bisa diidentifikasikan sebagai seorang Bapak Persatuan dan kerukunan.
Pidato dan komunikasi politik seperti itu menambah keyakinan rakyat akan kebenarannya dalam memilih dirinya menjadi presiden RI ke-8. Kita tentu merasa bangga dan bersyukur memiliki presiden ke- 8 dalam diri Prabowo Subianto yang mengedepankan kerukunan, persatuan dan perdamaian.
Kerukunan, persatuan dan kedamaian adalah modal yang paling dasar sekaligus paling penting bagi bangsa Indonesia untuk bisa bekerja dengan nyaman. Apalagi programnya meneruskan program Presiden Jokowi yang bagi rakyat sudah jelas arahnya.
Tetapi yang paling kita harapkan adalah Prabowo-Gibran sanggup membawa Indonesia maju menuju Indonesia Emas 2045, terutama mengentaskan kemiskinan. Apabila kemiskinan di Indonesia sudah bisa teratasi, kita semua sama-sama dapat bergandengan tangan sambil terus berjuang menuju Indonesia Emas, Indonesia adidaya, Indonesia adil, makmur dan sejahtera.
Penulis, Analis Sosial dan Politik.