Rabu, 14 Januari 2026

Darwinisme Politik dalam Kampanye Pemilu 2024


 Darwinisme Politik dalam Kampanye Pemilu 2024 Ilustrasi: Darwinisme Politik dalam kampanye Pemilu 2024. (Net)

Oleh: Thomas Paulus

PEMILU 14 Pebruasi 2024 tinggal menghitung hari. Ketiga pasangan capres-cawapres Anies Baswedan- Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD, beserta para pendukung masing-masing telah berusaha keras lewat kampanye untuk meyakinkan para calon pemilih bahwa pasangannya yang terbaik ketimbang pasangan lawan.

Dan seperti apa yang biasa terlihat pada perhelatan demokrasi lima tahunan adalah kencangnya tiupan angin surga dan jualan kecap nomor satu dari setiap pasangan capres-cawapres. Tidak ada program yang tidak hebat keluar dari ketiga pasangan. Meski jelas bahwa program yang dijual itu tidak bisa masuk ke nalar dan perut politik rakyat karena kelewat manis kecapnya.

Belum lagi black campaign atau kampanye hitam alias politik bully yang gencar dilancarkan oleh pasangan capres-cawapres tertentu terhadap lawan politiknya. Black campaign menurut Lynda Lee Kaid, adalah kampanye yang tidak memokuskan keunggulan citra politik diri, tapi lebih fokus mengekspos kekurangan lawan agar lawan politiknya dijauhi dari para calon pemilih. Ternyata, seperti yang kita lihat, pasangan yang mem-bully tersebut, mendapat bully balik secara sadis dari para nitizen pendukung pasangan yang di-bully.

Machiavelli dan Darwinisme Politik

Langgam politik dalam kampanye pemilu di Indonesia hingga saat ini tidak terlepas dari citra politik yang menegaskan adanya doel heillgt de middelen, yaitu tujuan menghalalkan cara untuk memenangkan pertarungan politik. Sebuah praktik politik yang melampaui etika dan moral, the end justificied the mean yang digagas politisi kontroversial dari Italia di zaman Renaisance Niccolo Machiavelli lewat karyanya Il Principe.

Dalam Il Principe, yang berisi surat persembahan untuk Adipati Lorenzo De’ Medici, dimana dia menganjurkan, biar tetap disegani, seorang politisi harus pandai memanfaatkan situasi dengan cara apa pun, dan melakukan apa pun kalau boleh harus pandai mencari sekutu yang lebih kuat untuk bertarung menghadapi lawan politik, hingga dapat mengangkat panji kemenangan. Sebuah praktik politik yang dianjurkan untuk tidak peduli dengan moral dan etika.

Pertarungan politik yang tidak sehat itu juga menurut Charles Darwin, hakikat dasarnya merupakan ekspresi alami seperti layaknya binatang berjuang dan menggunakan instrumen konflik untuk memenangkan pertarungan dan mempertahankan eksistensinya. Dalam pertarungan ala binatang dalam dunia rimba ini, tidak perlu mempertimbangkan baik buruknya cara dalam memenangkan pertarungan itu.

Charles Darwin, sang naturalis yang hidup pada paruh abad ke-19, yang merumuskan tentang seleksi alamiah dan membuka peluang bagi munculnya istilah survival of the fittest, di mana ia memproklamirkan sebuah tesis yang menggemparkan dunia tentang huhungan antarmakhluk hidup yang dibangun atas prinsip persaingan dan penguasaan, dengan berbagai ragam predatornya yang mengerikan, di mana para politisi senantiasa berprinsip bahwa kekuasaan hanya bisa dipegang dengan jalan diperagakannya show of the force.

Dengan politik seperti itu, memang dikhawatirkan lahirnya anarkisme politik massa yang tidak lain merupakan ekspresi dari insting soliter, dari naluri yang ingin mencari kepuasan diri sendiri dengan melawan segala aturan, tata krama, norma-norma, etika dan moral politik.

Apabila gelagat politik ala binatang dalam pertarungan untuk mempertahankan eksistensi ala Darwin dan politik melabrak moral ala Machiavelli itu terus dipelihara pasca pemilu, maka yang dikhawatirkan adalah lahirnya kekuasaan tiranik yang dapat menjalankan kekuasaan secara leluasa dan bisa represif.

Hasil dari jalan pertarungan politik seperti itu akan menghasilkan kekuasaan yang disebut nihilisme. Nihilisme adalah legitimasi kekerasan dalam menjalankan kekuasaan, dengan mengosongkan substansi tujuan. Semua jalan kekuasaan yang tidak baik, selalu dikamuflase supaya terlihat baik.

Hal inilah yang terjadi di masa Orde Baru yang terus berputar dalam labirim kekuasaan Soeharto, yang tak henti-hentinya membekap nalar etik politik rakyat, yang kemudian meletup dalam tragedi 1998 dengan jatuhnya sang rezim dari singgasananya.

Ingat Hati Suci Politik Rakyat

Sekarang kita masuk ke dalam ruang waktu politik yang sangat krusial yaitu waktu menjelang hari pencoblosan dan sesudah pencoblosan. Waktu yang menentukan lulus tidaknya pemilu 2024. Waktu sebelum pencoblosan yang dikhawatirkan ada pihak yang sengaja ingin menggagalkan pemilu, dan waktu sesudah pencoblosan dimana munculnya kecurigaan adanya kecurangan yang berujung pada sengketa pemilu.

Di sini diperlukan adanya tanggung jawab moral politik bersama dan rasa saling menghormati dan saling percaya di antara para kompetitor. Hannah Arendt menulis, segala aktivitas politik yang berlangsung di ruang publik, tidak lain merupakan suatu seni menghadapi dan menyelesaikan kata-kata yang persuasi dan bukan melalui kekuatan dan kekerasan.

Karena kerja politik sebagaimana Arendt, adalah suatu kegiatan sintetis, mengubah benturan niat dan ambisi pribadi menjadi langkah kerja sama dengan menunjukkan butir-butir nilai yang saling menguntungkan bagi semua pihak.

Politik ambisius yang penuh nafsu untuk memenangkan kepentingan pribadi dan kelompok harus disingkirkan dengan menatapi kepentingan rakyat seluruhnya. Bahwa di atas pundak tanggung jawab politik para politisilah rakyat menggantungkan nasibnya dan memeteraikan rasa cintanya kepada negeri ini.

Jangan kau khianati dan kau lukai hati suci politik rakyat.

Penulis, aktivis dan mahasiswa sebuah PTS.

 

 

 

Editor : Farida Denura

Catatan Terbaru