Jokowi Petarung Berkelas


 Jokowi Petarung Berkelas Presiden Jokowi yang lebih mementingkan rakyat dalam kepemimpinannya (@SeknasJok)

Ketika itu hujan sedang turun lebat di Hong Kong. Saya sampai di hotel bintang Lima dengan setengah terburu buru karena khawatir telat bertemu dengan orang yang sangat saya hormati. Terus jalan cepat ke arah lounge executive. Wajah tua dari kejauhan nampak sedang asyik berbicara dengan seseorang yang tidak saya kenal.

Tak berapa lama dia datang menemui saya. Dia mentor saya dalam bisnis. Saya sengaja membawakan Cigar untuk dia. Dengan tersenyum senang dia memeluk saya. Tak berapa lama dia mengatakan kepada saya bahwa saya harus bersyukur punya presiden seusia dengan saya. Cerdas dan berani. Yang lebih penting keberanian yang berkelas. Tanpa banyak retorika tapi bersikap jelas dan berbuat. Perpaduan karakter petarung ala barat dan timur yang sempurna. Itulah Jokowi. Katanya.

Betapa tidak, China dan AS dibuat bingung oleh Jokowi. Katanya kemudian. Dalam pertemuan APEC di Beijing Jokowi dengan tegas akan memberikan ruang ALKI kepada AS. Dengan demikian tidak berdesakan dengan China di Malaka. Untuk itu Jokowi akan membangun pelabuhan check point Banten dan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Saya tahu beberapa kementrian yang terlibat dengan kebijakan pelayaran utama (Selat Malaka) dan Alur Laut Kepulauaan Indonesia (ALKI) melalui Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi juga bingung menterjemahkan kebijakan Jokowi.

Waktu itu baik China dan AS setuju untuk mengakhiri konplik laut china selatan,lanjutnya. Atas kesepakatan itu China merasa aman dengan program OBOR untuk menghubungkan china ASEAN. Pembangunan kereta logistik digelar dari Guangxie melalui Vietnam, Thailand, Malaysia Singapore dan rencana dengan jembatan laut Malaka akan terhubung dengan Indonesia (Dumai).

Saat sekarang jalur kereta sudah sampai di Malaysia. Dan sedang membangun tunel ke Singapore. Sementara AS sedang memperkuat investasi explorasi gas di blok santa fee dan marsela (Laut Arapuru-Maluku) dan Mahakam, kalimantan timur. Tetapi dalam perjalanannya Jokowi tidak pernah komit dengan kesepakatan APEC itu.

Jokowi tidak menanggapi proposal jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai dengan Malaka. Program Toll laut Jokowi bukannya mendukung OBOR malah bersaing dengan OBOR. China pusing. Bagaimana dengan AS? Blok Mahakam di take over oleh Pertamina awal tahun ini dan Blok masela di bangun di darat dan sekarang justru Jokowi akan membangun pangkalan militer di Kepulauan arapuru. AS tambah pusing. “Bagaimana mau kerjasama kalau tidak ada yang komit. Jokowi seenaknya mengabaikan komitment yang dibuatnya.” Katanya.

Saya hanya tersenyum.

Saya katakan kepada dia bahwa OBOR tidak akan dapat peluang menyentuh Malaka sebelum Sumatera terkoneksi dengan toll laut maupun toll darat. Jokowi tidak mau mengorbankan Geostrategisnya untuk kepentingan asing. Janji china akan menggelontorkan dana USD 30 miliar untuk jalan toll Sumatera dan toll laut, nyatanya hanya 10% saja cair. Mau komit gimana? Amerika juga sama, engga ada niat baik menyelesaikan masalah freeport dengan mulus. Mau komit gimana ? Saya rasa ini hanya pertimbangan fairly. Kalau mau bersinergi, China dan AS harus tunjukan itikad baik. Ya. Sekarang Indonesia, ada atau tidak ada China, AS pembangunan jalan terus sesuai agenda. Agenda Jokowi untuk Indonesia. Kata saya.

Sudah seharusnya China sadar bahwa Indonesia bukan di era Soekarno. AS harus sadar bahwa Indonesia bukan di era Soeharto. Ini era Jokowi. Era kemitraan yang bermartabat. Menurut saya, China selesaikan aja komitment membiayai jalan toll Sumatera dan toll laut, dalam kuridor B2B. Kemudian AS gunakan Jepang dan Eropa bangun koneksitas Kalimatan dan Sulawesi. Selesaikan Freeport.

Nah kalau itu semua udah selesai, Jokowi akan komit. Mengapa? Karena kalau infrastruktur terbangun, Indonesia juga siap bersaing atas program OBOR dan grand PAcific nya Amerika. Kan engga mungkin Indonesia hanya jadi penonton. "Wah saya yakin Jokowi akan gagal Pilpres 2019. Terlalu banyak musuh. Apalagi proxy China dan AS ada disemua Partai,"katanya.

Saya hanya tersenyum.

“Negeri kami merdeka berkat rahmat Tuhan. Engga ada yang kami takuti dengan asing apalagi proxy kambing. Karena yang menjaga kami adalah Tuhan. Apakah ada yang lebih hebat dari Tuhan. Camkan itu.” Kata saya. Dia tertawa. Saya senang orang muda indonesia sehebat ini. Memang kelebihan Indonesia selalu sejarah melahirkan generasi first class yang tampil penyelamat dari para predator. Memang itu berkat invisible hand dari Tuhan yang selalu bekerja untuk rakyat Indonesia. katanya. Saya pandang keluar lewat jendela kaca lebar. Jauh di sana negeri saya sedang bertarung antara baik dan buru. Semoga akan baik baik saja.


Sumber: Dewa Aruna

 

Catatan Terbaru