Mojtaba Khamenei: Ulama di Balik Layar yang Kini Memimpin Iran


  • Senin, 09 Maret 2026 | 13:30
  • | Tokoh
 Mojtaba Khamenei: Ulama di Balik Layar yang Kini Memimpin Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi Iran. Dia merupakan sosok yang dibenci AS. (Foto:Tasnim News/SindoNews)

NAMA Mojtaba Khamenei selama bertahun-tahun lebih sering dibicarakan dalam bisik-bisik politik dibandingkan tampil terang di panggung publik. Sosok ulama yang dikenal tertutup ini lama disebut-sebut sebagai figur berpengaruh di balik layar kekuasaan Iran. Kini, setelah ayahnya wafat dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel, Mojtaba resmi menempati posisi tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan Iran.

Ulama berusia 56 tahun itu ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama yang secara konstitusional memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara.

Penunjukan tersebut mengikuti prosedur resmi sebagaimana diatur dalam konstitusi Iran. Meski demikian, kedekatan Mojtaba dengan mendiang Ayatollah Ali Khamenei selama ini membuat namanya sering muncul dalam spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan.

Dengan keputusan itu, Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979. Ia mengambil alih tampuk kepemimpinan pada masa yang tidak mudah—ketika ketegangan geopolitik meningkat dan situasi domestik Iran menghadapi berbagai ketidakpastian.

Lahir dari Lingkaran Kekuasaan

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota di timur laut Iran yang dikenal sebagai salah satu pusat spiritual penting bagi umat Syiah.

Ia adalah putra kedua Ayatollah Ali Khamenei, tokoh yang memimpin Iran sejak 1989 hingga wafat dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel baru-baru ini.

Kakeknya, Sayyed Javad Khamenei, juga dikenal sebagai ulama terkemuka. Dengan latar belakang keluarga seperti itu, Mojtaba tumbuh dalam atmosfer yang sangat kental dengan tradisi keulamaan dan dinamika politik Iran.

Sejak kecil, ia menyaksikan langsung perjalanan politik ayahnya, mulai dari masa Revolusi Iran, periode sebagai presiden, hingga akhirnya menjadi pemimpin tertinggi negara.

Dalam kehidupan pribadi, Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri politisi konservatif Gholam-Ali Haddad-Adel yang pernah menjabat sebagai ketua parlemen Iran.

Tragedi turut menyertai perjalanan hidupnya. Dalam serangan udara yang menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di Teheran, istrinya termasuk di antara korban yang gugur. Mojtaba sendiri selamat, namun kehilangan sejumlah anggota keluarga, termasuk ibunya, saudara perempuan, serta beberapa kerabat dekat.

Pendidikan Ulama di Qom

Sebagaimana banyak tokoh ulama Iran lainnya, Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota Qom—pusat pendidikan teologi Syiah di negara tersebut.

Di kota ini berdiri banyak hawzah atau sekolah pendidikan ulama yang telah melahirkan banyak tokoh politik dan keagamaan Iran.
Mojtaba mempelajari fikih dan teologi di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif terkemuka, antara lain Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, serta Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, seorang ideolog penting dalam kalangan konservatif Iran.

Sebagian besar kariernya dihabiskan di dunia akademik keagamaan. Ia diketahui mengajar di lembaga pendidikan ulama di Qom, termasuk kelas fikih tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, level tertinggi dalam pendidikan keagamaan Syiah.
Meski berada di lingkaran elite keagamaan, Mojtaba tidak pernah menduduki jabatan formal dalam pemerintahan ataupun mencalonkan diri dalam jabatan publik melalui pemilihan umum.

Figur Berpengaruh yang Jarang Terlihat

Dalam berbagai laporan media internasional, Mojtaba sering digambarkan sebagai sosok yang sangat tertutup namun memiliki pengaruh signifikan di balik layar.

Ia hampir tidak pernah menyampaikan pidato politik panjang atau wawancara publik yang menjelaskan secara terbuka pandangan ideologinya.

Nama Mojtaba biasanya muncul dalam diskusi politik Iran ketika pemilihan presiden berlangsung atau ketika muncul spekulasi mengenai figur yang ia dukung dalam peta politik nasional.

Namun di ruang publik, kehadirannya relatif jarang. Ia lebih sering terlihat dalam upacara kenegaraan, peringatan nasional, atau acara keagamaan yang diliput media pemerintah.

Salah satu penampilan publik terakhirnya terjadi saat menghadiri aksi pro-pemerintah setelah gelombang demonstrasi besar yang terjadi di Iran awal tahun ini.

Beberapa laporan juga menyebut Mojtaba pernah bergabung sebagai relawan dalam Perang Iran–Irak pada akhir 1980-an, ketika ayahnya menjabat sebagai presiden.

Pengalaman tersebut disebut sebagai keterlibatan awalnya dalam urusan militer.

Sejumlah media Barat juga mengaitkannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer yang memiliki pengaruh besar dalam sistem politik Iran. Namun hingga kini tidak ada catatan resmi bahwa ia pernah memegang posisi formal dalam organisasi tersebut.

Memimpin di Tengah Ancaman

Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran pada salah satu periode paling menegangkan dalam sejarah modern negara tersebut sebagaimana dikutip dari Antara.

Proses suksesi terjadi ketika konflik regional semakin memanas dan hubungan Iran dengan sejumlah negara Barat berada dalam situasi yang sangat tegang.

Ancaman juga datang langsung dari Israel. Para pemimpin negara tersebut secara terbuka menyatakan akan menargetkan siapa pun yang memimpin Iran dan dianggap melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap Israel.

Pernyataan keras itu memperlihatkan betapa berat tekanan geopolitik yang kini mengelilingi kepemimpinan Mojtaba.

Bagi banyak pengamat, penunjukan Mojtaba Khamenei bukan sekadar pergantian pemimpin. Ia menandai babak baru dalam perjalanan Republik Islam Iran—sebuah periode yang kemungkinan akan sangat menentukan arah politik negara tersebut di masa depan.

Editor : Patricia Aurelia

Tokoh Terbaru