Sabtu, 18 April 2026

Tarique Rahman: Dari Bayang-bayang Dinasti Politik Menuju Kursi Perdana Menteri Bangladesh


  • Minggu, 15 Februari 2026 | 15:00
  • | Tokoh
 Tarique Rahman: Dari Bayang-bayang Dinasti Politik Menuju Kursi Perdana Menteri Bangladesh PM Bangladesh Tarique Rahman (X/X)

NAMA Tarique Rahman kembali menjadi sorotan Asia Selatan. Setelah kemenangan Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dalam pemilihan umum, sosok berusia 60 tahun ini digadang-gadang akan menjadi perdana menteri Bangladesh berikutnya. Namun, perjalanan menuju puncak kekuasaan itu bukan kisah lurus tanpa luka—melainkan rangkaian jatuh-bangun, pengasingan panjang, dan bayang-bayang dinasti politik yang kuat.

Anak Dinasti, Pewaris Sejarah

Tarique lahir dari keluarga yang tak terpisahkan dari sejarah modern Bangladesh. Ayahnya, Ziaur Rahman, adalah tokoh perjuangan kemerdekaan yang kemudian menjadi presiden dan pendiri BNP. Ibunya, Khaleda Zia, tercatat sebagai perdana menteri perempuan pertama di negeri itu.

Namun warisan politik ini juga datang bersama tragedi. Ziaur Rahman tewas dalam kudeta militer pada 1981, ketika Tarique masih remaja—sebuah peristiwa yang membentuk pandangannya tentang kerasnya politik sejak dini.

Dari Kader Muda ke Tokoh Kunci

Aktivisme politik Tarique di BNP mulai menonjol awal 2000-an, bertepatan dengan periode kedua kepemimpinan ibunya. Pada 2002, ia naik ke posisi senior partai—langkah yang memicu tuduhan nepotisme dari kubu oposisi. Di internal partai, ia dikenal tegas, disipliner, dan tak segan mengambil keputusan keras.

Tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi terus mengiringi namanya. Tarique berulang kali membantah, sementara para pendukungnya menilai ia kerap dijadikan sasaran politik oleh lawan-lawan BNP.

Penjara, Pengasingan, dan Politik dari Jarak Jauh

Tahun 2007 menjadi titik balik. Dalam pemerintahan sementara yang didukung militer, Tarique ditangkap atas tuduhan korupsi. Ia menghabiskan sekitar 18 bulan di penjara dan mengaku mengalami penyiksaan. Setelah bebas, ia pergi ke London dan tak kembali ke Bangladesh selama 17 tahun.

Meski berada di luar negeri, pengaruhnya tak pudar. Saat Khaleda Zia dipenjara pada 2018, Tarique menjadi pemimpin sementara BNP—menyusun strategi, mengonsolidasikan basis, dan menjaga nyala oposisi dari kejauhan. Di masa kekuasaan Sheikh Hasina, ia menghadapi berbagai kasus hukum, termasuk vonis in absentia terkait serangan granat 2004—tuduhan yang kemudian gugur dilansir dari BBC.

Pulang, Berduka, dan Mengambil Kendali

Tarique kembali ke Bangladesh pada 25 Desember 2025. Lima hari berselang, ibunya wafat. Pada 9 Januari, ia resmi didapuk sebagai pemimpin BNP. Bagi banyak analis, ini adalah “keniscayaan politik”—hasil dari sejarah, struktur partai, dan ketokohan yang telah lama terbentuk.

Isu dinasti kembali mengemuka. Namun bagi sebagian elite BNP, perdebatan asal-usul tak lagi relevan. Tantangan sesungguhnya ada di depan: apakah Tarique mampu beralih dari pemimpin partai menjadi pemimpin negara yang merangkul luas, melampaui politik konflik dan balas dendam?

Ujian Kepemimpinan

Pengalaman panjang—dari tragedi keluarga, penjara, hingga pengasingan—membekali Tarique dengan pemahaman mendalam tentang sisi gelap politik Bangladesh. Kini publik menanti: akankah pengalaman itu menjelma kebijaksanaan untuk memimpin negeri ke fase baru?

Editor : Farida Denura

Tokoh Terbaru