Loading
Rapper yang beralih menjadi politikus, Balen Shah, mencetak kemenangan bersejarah di Pemilu Nepal. Partainya, RSP, diprediksi meraih kemenangan mutlak.(Media Sosial X)
JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Peta politik Nepal berubah drastis setelah Partai Rastriya Swatantra (RSP) yang dipimpin rapper sekaligus mantan Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah, meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum yang digelar pada 5 Maret.
Partai yang dikenal sebagai kendaraan politik generasi muda itu berhasil mengamankan mayoritas mutlak di parlemen, sebuah pencapaian yang jarang terjadi dalam politik Nepal yang selama puluhan tahun didominasi sistem koalisi.
Kemenangan ini sekaligus membuka jalan bagi Balendra Shah—yang populer dengan julukan “Balen”—untuk menjadi perdana menteri termuda dalam sejarah negara tersebut.
RSP Menang Besar di Parlemen
Hasil resmi pemilu menunjukkan Partai RSP meraih 182 kursi dari total 275 kursi parlemen. Jumlah tersebut hanya terpaut dua kursi dari mayoritas super dua pertiga.
Sementara itu, Partai Kongres Nepal menempati posisi kedua dengan 38 kursi, disusul Partai Komunis Nepal UML (CPN-UML) yang memperoleh 25 kursi.
RSP kemudian secara resmi mengajukan Balendra Shah sebagai kandidat perdana menteri. Dalam pemilu ini, Shah bahkan berhasil mengalahkan mantan Perdana Menteri Nepal KP Sharma Oli di daerah pemilihannya.
Jika nantinya dilantik, Shah akan mencatat sejarah sebagai perdana menteri termuda Nepal.
Hasil Pemilu Diumumkan Lebih Cepat
Menariknya, pengumuman hasil pemilu kali ini tergolong lebih cepat dibandingkan pemilu sebelumnya.
Hasil resmi diumumkan sekitar tujuh hari setelah pemungutan suara, jauh lebih singkat dibandingkan pemilu 2022 yang membutuhkan hampir dua minggu untuk menyelesaikan penghitungan.
Proses pemilu di Nepal memang terkenal rumit karena faktor geografis. Negara Himalaya tersebut memiliki lebih dari 80 persen wilayah berupa pegunungan, sehingga distribusi logistik pemilu sering menjadi tantangan besar.
Di sejumlah daerah terpencil, kotak suara bahkan harus dibawa turun gunung secara manual atau diangkut menggunakan helikopter.
Kondisi cuaca buruk dan aturan penerbangan di wilayah pegunungan juga kerap memperlambat proses pengumpulan suara. Hal itu dilaporkan dan dikutip dari BBC, yang menyoroti betapa kompleksnya logistik pemilu di negara tersebut.
Pemungutan Suara Melibatkan 19 Juta Pemilih
Komisi Pemilihan Nepal mencatat hampir 19 juta warga terdaftar sebagai pemilih, termasuk sekitar satu juta pemilih pemula.
Tingkat partisipasi pemilih mencapai sekitar 60 persen.
Dari total 275 anggota parlemen, 165 kursi dipilih melalui sistem mayoritas sederhana (first past the post), sedangkan 110 kursi lainnya melalui sistem perwakilan proporsional.
Sistem campuran ini selama ini membuat sulit bagi satu partai untuk meraih kemenangan mutlak. Karena itu, kemenangan besar RSP menjadi fenomena politik yang cukup mengejutkan.
Dominasi Generasi Muda
Pemilu kali ini juga menandai bangkitnya generasi muda dalam politik Nepal.
Dari total 6.541 kandidat, lebih dari 1.000 kandidat berusia di bawah 40 tahun ikut bersaing dalam pemilihan langsung.
Banyaknya kandidat muda yang berhasil memenangkan kursi parlemen menunjukkan adanya perubahan arah politik di Nepal.
Analis politik yang berbasis di Kathmandu menilai kemenangan Shah dan sejumlah kandidat muda lainnya mencerminkan pergeseran dukungan publik dari elite lama menuju generasi baru.
Latar Belakang Protes Besar
Pemilu ini digelar hanya enam bulan setelah gelombang protes besar pada September 2025 yang menggulingkan pemerintahan sebelumnya.
Aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh kemarahan publik terhadap korupsi, ketimpangan sosial, dan stagnasi ekonomi.
Kerusuhan sempat memakan korban jiwa dan menyebabkan sejumlah bangunan penting, termasuk parlemen dan Mahkamah Agung, dibakar massa.
Isu-isu seperti pemberantasan korupsi, penciptaan lapangan kerja, dan reformasi pemerintahan kemudian menjadi tema utama dalam kampanye hampir semua partai politik.
Dampak Geopolitik di Kawasan
Hasil pemilu Nepal juga menjadi perhatian dunia internasional. India, yang memiliki hubungan historis kuat dengan Nepal, memantau perkembangan politik negara tetangganya tersebut dengan cermat.
Hubungan India dengan mantan PM KP Sharma Oli sebelumnya sempat tegang karena Oli dinilai lebih dekat dengan China.
Di sisi lain, China juga memiliki kepentingan strategis di Nepal, termasuk proyek Belt and Road Initiative (BRI).
Amerika Serikat pun ikut mengamati perkembangan ini karena Nepal berada di kawasan strategis antara dua kekuatan besar Asia.
Dengan kemenangan telak RSP, Nepal kini memasuki babak baru politik yang bisa berdampak tidak hanya bagi negara tersebut, tetapi juga bagi dinamika geopolitik kawasan.