Loading
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. ANTARA/HO-PDI P
JAKARTA, POLITIK.ARAHKITA.COM – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan, di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan, Uni Emirat Arab. Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut tak hanya membahas hubungan bilateral, tetapi juga menyinggung dinamika politik Indonesia.
Di hadapan Pangeran Khaled, Megawati secara terbuka menjelaskan hubungan personalnya dengan Presiden Prabowo Subianto. Meski kini berada pada posisi politik yang berbeda, keduanya disebut tetap memiliki ikatan persahabatan yang kuat dan telah terjalin lama.
Megawati menuturkan bahwa ia dan Prabowo memiliki visi besar yang sama tentang masa depan Indonesia. Kedekatan itu bahkan tercermin dari cara mereka saling menyapa dalam keseharian. Megawati memanggil Prabowo dengan sebutan “Mas”, sementara Prabowo memanggilnya “Mbak”.
Namun di balik keakraban tersebut, Megawati menegaskan bahwa sikap politik partainya tetap berada di luar pemerintahan. Posisi itu disebut sebagai pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan demokrasi.
Menurut Megawati, keberadaan PDIP di luar kabinet bukan dimaksudkan untuk menentang pemerintah, melainkan untuk menjalankan fungsi kontrol. Partainya akan mendukung setiap kebijakan yang berpihak pada rakyat, tetapi tidak segan memberikan kritik jika ada langkah yang dinilai keliru.
Ia juga meluruskan pemahaman mengenai istilah oposisi. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang menganut presidensial, konsep oposisi seperti di negara parlementer tidak dikenal. Yang ada hanyalah posisi di dalam atau di luar pemerintahan dalam keterangan yang diterima media, Kamis (5/2/2026).
Penjelasan tersebut mendapat respons positif dari Putra Mahkota Abu Dhabi. Pangeran Khaled disebut menyimak dengan penuh perhatian dan menghormati sikap politik yang diambil Megawati beserta partainya.
Dalam pertemuan itu, Megawati hadir didampingi sejumlah tokoh PDIP, termasuk putranya Muhammad Prananda Prabowo, Nancy Prananda, Zuhairi Misrawi, serta Andi Widjayanto. Pertemuan ini mempertegas peran diplomasi politik Indonesia yang tetap berjalan beriringan dengan dinamika di dalam negeri.