Loading
R. Mustaya adalah Dalang Sepuh Wayang Golek Sunda Banten bersama istri. (Foto: Dok. Pribadi)
R. MUSTAYA adalah Dalang Sepuh Wayang Golek Sunda Banten. Sosok sepuh ini merupakan trah pendiri Tangerang, Sunda Banten, keturunan Raja Garut sekaligus darah asli Raja Siliwangi, Raja Kerajaan Padjadjaran. Eyang uyut pendiri Tangerang yang dikenal dengan Tiga Bersaudara sakti dari Sarut, yaitu Arisantika, Aridiwangsa, dan Aridikara. Dari tiga pendekar sakti dari Garut inilah cikal bakal lahirnya Kota Tigaraksa, Tangerang Banten sekarang. Tangerang kemudian pecah menjadi 2 yakni Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, Banten.
Keprihatinan Sang Dalang Sepuh terhadap Kondisi Banten Saat Ini
Bahwa Banten yang sejarahnya merupakan pintu gerbang masuknya bangsa atau negara-negara Barat ke Nusantara seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan lain-lain, ternyata kini telah luntur marwahnya dan telah jatuh pamornya. Apalagi Banten juga dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Jawara yang sangat disegani dan dihormati. Belum lagi Banten merupakan tempat percetakan uang Indonesia pertama kali yang dicetak di bawah presiden sementara Safruddin Prawiranegara, ketika Soekarno dipenjarakan di Sukamiskin.
Dari peristiwa tragis yang menimpah Banten membuat Sang Dalang Wayang Golek ini pun menyebutnya sebagai Banten sudah kalah dan kena hukuman alam 7-0 tujuh-kosong.
Lalu, ketika ditanya tentang kondisi Indonesia ke depan, dari kaca mata Dalang, Dalang Sepuh Wayang Golek yang juga memiliki ilmu kanuragan, dengan mata batin yang tajam ini mengatakan Indonesia ke depan sangat mengkhawatirkan. Itu dalam kaitan dengan pemindahan ibu kota negara Republik Indnesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur.
Dari kaca mata dunia supranatural, dikatakan setiap kali terjadi pergantian pemimpin atau peristiwa besar di negara ini, selalu diawali atau diliputi dengan berbagai peristiwa besar yang biasa diistilahkan sebagai goro-goro atau huru hara yang menimbulkan jatuhnya korban nyawa yang tidak sedikit, entah itu konflik berdarah antara anak-anak bangsa atau karena bencana alam besar yang menelan korban nyawa manusia yang tidak sedikit.
Apalagi akan terjadi beberapa peristiwa besar sekaligus menjelang akhir tahun ini, yaitu pergantian pemimpin presiden dan wakil presiden, pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur, serta pilkada.
Sang Dalang tentu tidak mengharapkan itu terjadi. Sang Dalang juga tidak bisa mencegahnya. Sang Dalang hanya mendorong semua pihak terutama negara untuk tetap waspada.
BIODATA:
Nama : R. Mustaya Natadirdja (Panggilan : Abah R. Mustaya)
Tempat/Lahir : Tangerang, Tahun 1935 -usia 89 tahun-
Istri : Hj. Saomi atau Hj. Salmah Binti Samain
Anak : 13 (dari satu istri)
Cucu : 28
Cicit : 9
Agama : Islam Wiwitan –Sunda Wiwitan- yang boleh dikatakan hingga saat ini berpusat di Badui Dalam. Artinya, Islam yang masih lekat dengan unsur monteisme purba yang memiliki konsep kepercayaan tertinggi terhadap Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa yang tak terwujud yang disebut Sang Hyang Kersa, yang setara dengan Tuhan Yang Maha Esa dalam ideologi Pancasila. Kepercayaan yang masih lekat dengan kekuatan leluhur. Kepercayaan seperti ini sebenarnya masih ada di hampir semua suku di Nusantara.
Pendidikan
1950 : SR Karawaci Tangerang
1955 : SMP Karawaci Tangerang
1961 : Sekolah di sekolah seni pedalangan di Kota Bandung, Sekarang jadi SMKI
Aktifitas Dalang Wayang Golek
1963 : Mulai pentas Wayang Golek di Jakarta Utara.
1964-1965 : Tinggal dan aktif pentas wayang Golek di Padepokan Kurnia, Tanjung Priok, Jakarta Utara
1965 : Pentas Wayang Golek dalam hajatan besar di Jembatan Lima Jakarta saat meletus peristiwa berdarah G30S/PKI
1967 : Mendirikan organisasi seni budaya pimpinan Bpk. Ajun Cepy Heru Kodim 0505 Jakarta Utara
1967 : Membentuk organisasi Seni budya pimpinan Letkol Basri Al-Jawi di Rawamangun, Jakarta Timur
1967-1972 : Dinas di Jl. Percetakan Negara Pimpinan Bpk. Letkol Basri Al-Jawi Kodim 0505 Jakarta timur
1972-1973 : Pindah tugas dalang ke Tangerang, kota kelahirannya, karena saat itu Tangerang butuh budayawan muda khususnya Dalang Wayang Golek yang identik dengan Sunda. Pengembangan budaya Wayang Golek di Tangerang di bawah Kodim 0506 pimpinan Letkol Ugan Koswara.
1974 – Mendirikan Madrasah Miftuhusalam di Cimone Tangerang
- Mendirikan Masjid At-Taufik Cimone Tangerang
- Mendirikan kantor kelurahan Cimone Karawaci Tangerang
- Mendirikan sekolah Nusa Putra Tangerang
- Membangun makam wakaf Kota Tangerang
1976 : Mendirikan Padepokan Getra Lodaya, organisasi kebudayaan untuk menampung para seninan dari berbagai unsur seni di seluruh Kota Tangerang. Masih ada sampai sekarang.
1976 : Menjadi corong kampanye Golkar di seluruh daerah Banten yang waktu itu belum menjadi Provinsi sendiri seperti sekarang.
1976-1980 : Menjabat Ketua PEPADI -Persatuan Pedalangan Indonesia-. Untuk Pepadi ini sudah diakui Dunia dan tercatat di UNESCO sebagai aset budaya Nusantara
1917 : Pensiun atau berhenti beraktifitas sebagai Dalang Wayang Golek. Kini menjadi pelindung dan penasehat para Dalang Muda Wayang Golek. Darah seni Wayang Golek kini sudah turun ke anaknya, Agus R.Mustaya berdomisili di Balaraja.