Sabtu, 13 Juli 2024

Antara Seni Sepak Bola dan Seni Politik


  • Penulis Thomas Koten
  • Minggu, 07 Juli 2024 | 14:30
  • | Catatan
 Antara Seni Sepak Bola dan Seni Politik Ilustrasi: Sepak bola menjadi ladang pembelajaran politik dalam pertarungan memperebutkan kekuasaan. (Bola.net)

Oleh: Thomas Koten

DALAM politik ada seni, yaitu seni berpolitik. Dalam sepak bola juga ada seni yaitu seni bermain dan seni mempermainkan bola. Atau seni mengelola dan seni mengatur permainan sepak bola. Demikian juga dalam politik, ada seni di dalamnya. Adalah seni mengatur dan mengelola politik. Kedua-duanya bertujuan untuk memenangkan pertandingan.

Sepak bola dapat dijadikan sebagai metafora kehidupan politik. Sepak bola menjadi ladang pembelajaran politik dalam pertarungan memperebutkan kekuasaan. Dalam hal mana, di dalam sepak bola mengandung seni memainkan sepak bola secara bersama-sama atau secara tim untuk meraih kemenangan. Dalam politik adalah seni kemungkinan yang bertalian dengan hal ihwal perebutan kekuasaan.

Artinya, sepak bola sebagai medan laga pembelajaran bagi politik karena di dalam sepak bola ada paradigma ilmu yang bisa ditemukan, ada kata kunci, yakni kebersamaan. Kebersamaan dalam menggocek bola, kebersamaan dalam membangun serangan secara tim untuk memasukkan bola ke gawang lawan.

Sepak bola sebagai sebuah tim, maka prinsip dasarnya ialah menghimpun kekuasaan dan kekuatan lalu melebur menjadi satu kekuatan di atas filosofi melewati dan menghabiskan atau melumpuhkan semua lawan hingga memasukan bola ke gawang lawan demi meraih kemenangan.

Demikian juga yang harus dilakukan oleh para politisi bagaimana mempelajari sepak bola atau memeraktekkan ilmu sepak bola sebagai sebuah seni dan keindahan dalam memenangkan pertarungan politik perebutan kekuasaan.

Dalam sepak bola, ada spirit fair play, kerja sama, kejujuran, pengabdian, dan hilangkan semua perilaku yang egoistik yang mana semua itu mengandung dimensi etis di dalamnya. Bahwa kemenangan yang diraih bukan atas dasar  kehebatan individu melainkan karena kehebatan tim.

Karena itu, jika para politisi dalam berpolitik memperebutkan kekuasaan, dan dengan bercermin pada ilmu sepak bola, maka seorang politisi harus sanggup menangkap dimensi-dimensi etis dari sepak bola, seperti moral dan mental-spiritual  yang di dalamnya mengandung nilai seni dan keindahan kerja sama tim.

Dengan demikian, benar kata Aristoteles, filsuf besar Yunani klasik, bahwa politik itu sungguh indah, agung dan mulia. Dan politik menjadi kotor hanya karena ulah para politisi busuk.

Penulis adalah Analis Sosial dan Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru