Sabtu, 13 Juli 2024

Manusia Pascamodern dan Kaya, Banyak Duit dan Harta, Sulit Bahagia, Benarkah?


  • Penulis Thomas Koten
  • Selasa, 25 Juni 2024 | 10:30
  • | Catatan
 Manusia Pascamodern dan Kaya, Banyak Duit dan Harta, Sulit Bahagia, Benarkah? Ilustrasi: Orang kaya dan banyak duit. (CNBC Indonesia)

Oleh: Thomas Koten

TUJUAN dari setiap aktivitas atau perjuangan hidup adalah mencapai kebahagiaan. Prestise, prestasi, jabatan, kekayaan yang diperjuangkan dan didapatkan tidak lain untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena itu tulis psikolog dari Universitas lllionis, Ed Dieter, bahwa kebahagiaan adalah komponen utama dari good life.

Artinya, untuk bisa bahagia seseorang harus berjuang untuk mendapatkannya. Kata spiritualis asal Tebet, Dalai Lama, kebahagiaan itu merupakan hasil dari suatu tindakan anda sendiri. Lalu, ungkapan itu seperti disempurnakan oleh pemimpin India, Gandhi, bahwa kebahagiaan adalah ketika apa yang anda pikirkan, apa yang anda katakan dan apa yang anda lakukan berada dalam harmoni.

Soal kebahagiaan itu juga jauh-jauh hari, sudah diulas oleh para filsuf Yunani bahwa kebahagiaan manusia itu ditentukan oleh prestasi yang diraih. Dengan prestasi, jabatan dan harta yang diperoleh memberikan kepada anda jalan untuk mendapatkan kebahagiaan, bukan kesuksesan. Sukses berarti mendapatkan apa yang diinginkan. Sedangkan, kebahagiaan itu adalah menginginkan apa yang sudah didapatkan.

Oleh karena itulah selalu dikatakan tujuan akhir dari setiap perjuangan hidup beserta seluruh aktivitas adalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu sejatinya tidak dapat diukur karena sangat abstrak. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan dengan penuh rasa syukur. Orang yang tak pandai bersyukur tidak akan mendapatkan dan merasakan kebahagiaan.

Karena kebahagiaan itu lebih ke pada soal rasa, maka nuansa spiritual melekat dan menunjang seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan. Sehingga, Foky, seorang Budhis menulis, untuk menjadi bahagia seseorang harus membangun diri dan masyarakat dalam keselarasan material dan spiritual.

Oleh kaena itu, jelas seseorang yang kaya raya,tetapi keluarganya tidak harmonis alias berantakan, sulit baginya untuk bisa merasakan kebahagiaan hidup. Kaya raya, tetapi hubungan pertemanan dengan anggota masyarakat lainnya tidak terjalin dengan baik, mungkin orang itu seperti merasa bahagia, tetapi sebenarnya hanyalah kebahagiaan semu atau pura-pura bahagia.

Tulisan ini tidak menjustifikasi bahwa orang kaya raya sulit bahagia. Artinya, bahwa manusia modern yang kaya raya dimana orientasi hidupnya hanya materi, hatinya hanya terpaut pada materi, sedang hal-hal yang bersifat rohani spiritual terbaikan karena terlalu sibuk mengejar materi, maka ia akan sangat sulit mendapatkan dan merasakan kebahagiaan hidupnya, meski terlihat orang itu bahagia. Apalagi materi yang diperolehnya itu dengan cara tidak halal seperti korupsi, atau misalnya punya perusahaan, tetapi menggaji karyawannya dengan gaji sangat minim padahal keuntungan perusahaan sangat tinggi.

Orang menjadi sulit bahagia, seperti kata Karl Marx, apabila orang menjadikan uang sebagai candu dan agama menjadi opium. Berbagai studi di Amerika juga mengatakan orang yang semakin mengejar uang dalam hidupnya, uang akan semakin menjadi candu yang brutal dan menggerus keahagiaannya. Yang dicari dari hidup bukan lagi Tuhan Sang Pencita sebagai tujuan akhir dari kehidupan ini, tetapi tuhan-tuhan konsumerisme, materialisme, hedonisme dan aneka kemewahan hidup.

Maka, jelas orang-orang materialistis cenderung tidak, ahagia. Karena orang yang materialistis, kata sejumlah psikolog  cenderung memiliki hubungan yang buruk dengan lingkunan sosial masyarakat, kurang harmonis dalam relasi pertemanan. Orang menjadi dekat dengan orang lain hanya karena ada maunya, yakni untuk mendapatkan uang dan materi. Pertemanan sejati sulit ditemukan dalam relasi itu. Kebahagiaan dalam  pertemanan juga sebenarnya hanyalah kebahagiaan semu, selah-olah bahagia, tetapi sebenarnya tidak bahagia.

Lalu bagaimana sebaiknya. Tulis Prof Kasser dari Knox College, AS, untuk menemukan kebahagiaan seseorang harus terus meningkatakan jiwa-jiwa spiritualnya dan merajut semangat sosialnya dengan mendermakan materi secara tulus dan benar-benar ikhlas kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Sebuah pemberian tanpa pamrih.

Seperti kata filsof Yunani klasik, puncak kebahagiaan seseorang terletak pada jalinan pertmanan atau persahabatan yang tulus. Juga relasi dengan alam lingkungan sekitar. Karena relasi yang terbangun secara baik dengan sesama dan alam semesta, sangat  memungkinkan relasi dengan Sang Pencita juga akan terjalin dengan baik. Kebahagiaan yang sempurna hanya bisa diperoleh dalam relasi yang agung antara manusia, alam dan Tuhan, Sang Sumber Kehidupan.

Dalam hal ini, negara harus memberikan ruang-ruang yang memungkinkan para warga negara mengekspresikan kebahagiaan dan saling menularkan kebahagiaan di antara para warga negara.

Penulis adalah Analis Sosial dan Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru