Sabtu, 15 Juni 2024

Perempuan-Perempuan Cantik di Pilkada Provinsi Banten


  • Penulis Thomas Koten
  • Sabtu, 08 Juni 2024 | 08:00
  • | Catatan
 Perempuan-Perempuan Cantik di Pilkada Provinsi Banten Untuk Provinsi Banten dalam pilkada tahun ini, muncul tiga perempuan cantik. (Banten TV)

Oleh: Thomas Koten

PERBEDAAN tidak akan terjadi apabila perempuan mempunyai ruang politik yang sama luasnya dengan laki-laki. Adalah bahwa perempuanlah yang sanggup mengubah hakikat kekuasaan, bukan kekuasaan yang akan mengubah hakikat perempuan–Bella Azbug, seorang feminis, pendiri Women Environment and Development Organization/WEDO.

Apakah karena terinspirasi oleh ungkapan sang feminis kenamaan Bella di atas atau tidak, yang jelas perempuan-permpuan negeri ini dalam beberapa dekade terakhir seperti telah tergerak naluri politiknya untuk tampil di panggung politik untuk mengubah nasibnya lewat kekuasaan.

Bahwa panggung kekuasaan yang sudah lama ibarat panggung mewah yang tak tersentuh oleh kaum perempuan, kini harus diperjuangkan untuk dipegang juga. Bahwa perubahan mendasar pada panggung kekuasaan diperjuangkan oleh perempuan sendiri. Karena hanya perempuanlah yang tahu efek buruk dari kekuasaan yang hanya didominasi oleh laki-laki.

Tiga Perempuan Cantik di Pilkada Banten

Bertolak dari getaran naluri politik perempuan itulah kini semakin banyak muncul di ranah perebutan kekuasaan pada pilkada di banyak daerah di tanah air. Sejarah juga telah mencatat sudah banyak perempuan yang maju dalam perebutan kekuasaan sebagai Kepala Daerah. Kalau sebagai anggota legislatif pusat dan daerah sudah lumayan banyak.

Untuk Provinsi Banten dalam pilkada tahun ini, muncul tiga perempuan cantik. Pertama, Airin Rachmi Diany, mantan Wali Kota Tangerang Selatan selama dua periode. Kedua, Ratu Ageng Rekawati, seorang budayawan dan penggiat sosial dan budaya. Ketiga, Ratu Ageng juga adalah seorang pendiri Yayasan Paguron Jalak Banten, dan keempat, Iti Jayabaya, mantan bupati Kabupaten Lebak.

Apakah hadirnya tiga perempuan cantik, putri Banten itu menambah bobot pilkada Banten. Tentu yang diharapkan adalah hadirnya perempuan-perempuan itu tidak hanya mengandalkan paras cantik nan ayu, kecantikan dan pesona diri yang menawan, lembut-gemulai, tetapi memiliki modal lewat kecerdasannya untuk memimpin Banten, yang boleh dikatakan belum maju-maju amat.

Ingat bahwa kecantikan dan pesona diri yang anggun bukanlah obat penyembuh penyakit kemiskinan dan senjata untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Senjatanya, hanyalah kecerdasan dalam melahirkan ide-ide yang jenial serta terprogram dan bisa diimlementasikan secara akurat. Kemudian, memiliki integritas yang mumpuni sebagai seorang pemimpin Provinsi Banten.

Siapa yang Menadatkan Mandat dari Rakyat Banten

Siapa dari ketiga perempuan cantik itu nantinya sanggup merebut dan meraih serta merengkuh kursi Gubernur Provinsi Banten. Jawabannya, tergantung sejauh mana di tengah budaya patriarki yang masih keras itu mereka sanggup meyakinkan masyarakat Banten bahwa dirinyalah yang paling bisa untuk diberikan mandat atau amanah untuk memimpin provinsi di ujung baarat Pulau Jawa ini.

Dan bagi rakyat Banten, tentu diharapkan tidak salah dalam memberikan amanat politiknya pada piilkada kali ini. Rakyat Banten tentu diharapkan tidak tergiur olleh pesona kecantikan yang mereka miliki tetapi pada kesanggupan untuk melahirkan program kesejahteraan rakyat, terciptanya lapangan pekerjaan dan tereliminasinya kemiskinan.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru