Sabtu, 15 Juni 2024

Sindroma Andropause Alias ‘Menopause’ Politik PDI-Perjuangan


  • Penulis Thomas Koten
  • Selasa, 21 Mei 2024 | 10:24
  • | Catatan
 Sindroma Andropause Alias ‘Menopause’ Politik PDI-Perjuangan Ilustrasi PDI Perjuangan. (Viva)

Oleh: Thomas Koten

PARTAI Demokrasi Indonesia Perjuangan -PDIP- adalah sebuah partai politik dengan logo banteng bermoncong putih dan mata merah. Banteng dijadikan simbol atau lambang partai ini, bukan hewan lain seperti kerbau. Kata Bung Karno, kerbau terlalu lunak dan lemah dalam menghadapi imperialisme dan kolonialisme Belanda. Adapun banteng lebih berani dan sigap menghadapi musuh.

Dan usia PDIP kini sudah 50 tahun lebih. Dalam usia ini, seperti banteng-hewan yang umurnya pendek, tidak seperti manusia, sehingga hewan banteng ini sudah mati dan yang hidup sekarang mungkin anak-cucu banteng. Maka dibutuhkan suatu era baru, kelahiran baru. Kalau dianalogikan dalam kepemimpinan partai, diperlukan suatu regenerasi total. Ada semacam renaisance-kebangkitan generasi baru secara spiritual dan politik.

Sejauh ini PDIP belum melakukan regenerasi secara radikal, perubahan yang dilakukan masih sebatas kulit ari politik. Secara politik, partai ini hanya berkutat sebagai mesin politik penjaga statusqu kekuasaan dan ambisi pemimpin di tingkat elite partai. Akselerasi politik tidak berjalan karena selalu dimentahkan oleh lingkaran status quo terutama di tangan sang pemiminnya. Itu terlihat jelas pada pemilu tahun ini.

Sindroma Andropause Politik

Sindroma andropause politik, menyitir ulang tulisan saya di harian Jurnal 1 April 2009, dimengerti sebagai suatu proses kehabisan aura pesona dan daya tarik politik, termasuk para pelaku politik. Sebuah tahapan atau proses politik dimana sosok politikus atau calon pemimppin partai yang tampil di panggung politik atau di gelanggang politik perebutan kekuasaan telah kehilangan pesonanya. Rasa hormat publik terhadap para elite politik partai tampak memudar. Pada tahap ini para elite politik dinilai telah dihinggapi semacam sindroma andropause politik.

Sindroma andropause –menurut Dr dr susilo Wibowo, merupakan terminologi di bidang medis yang menjelaskan sindroma yang mirip terjadi pada wanita yaitu menopause. Andropause secara harafia berarti terhentinya fungsi fisiologis dan biologis kaum pria. Berasal dari kata Yunani-andro-pria dan pause berarti telah berakhir atau penghentian.

Relevansi andropause dalam politik–menurut konsep Susilo Wibowo ini terselip tiga sindroma yaitu kumpulan gejala, tanda dan keluhan serta kegelisahan atau ketakutan.

Pertama, terjadinya dysphria politik yakni gejala-gejala berupa kegelisahan, ketidaktenangan, kegaduhan, ketakutan. Dysphora dari kata Yunani –dysphorotes yang berarti berat untuk dipikul –hard to bear-.

Kedua, anxietas atau kecemasan politik atau fenomena psikologis yang mengejewantah dalam bentuk perasaan tidak pasti mengenai diri sendiri dan mengenai eksistensi politiknya.

Ketiga, adanya perasaan ketidakmampuan lagi dalam politik. Ini bisa tergambar pada perilaku dan kesanggupan politik para politikus di tingkat elite partai yang kelihatan marah-marah sebagai ekspresi ketidakmampuan lagi dalam berjuang, meski hal itu kurang disadari.

Ketidaksanggupan itu bisa mewujud dalam sikap yang selalu menyalahkan pihak lain yang dianggap sebagai biangkerok atas kegagalan partainya dalam memenangkan pertarungan politik dalam perebutan kekuasaan. Menyalahkan pihak lain juga merupakan bentuk lain dari ketidaksanggupan –andropause- politik.

Pembaharuan Spiritual dan Mental

Untuk itu, pembaharuan sikap, mental, spiritual, dan pemikiran-pemikiran politik menjadi mutlak dan kata kunci untuk dilakukan demi membawa partai ke gelanggang politik mutakhir yang semakin keras hari ini dan esok. Perlu ada kesadaran, niat, kesabaran dan kerja keras untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan politik secara menyeluruh.

Membangkitkan kesadaran itu dalam psikoanalisa Sigmund Freud, misalnya, menekankan perlu adanya semacam terapi pemberdayaan sebagai kunci melepaskan diri dari pengaruh tersumbatnya alam bawah sadar manusia.

Pembaharuan mental dan spiritual serta semangat untuk terus bertarung dalam kondisi apa pun sebagai simbolisasi dari banteng yang berani menghadapi musuh politik, atau lawan-lawan politik, bukan lagi terhadap imperialisme dan kolonialisme sebagaimana spirit awal tercipta dan terbentuknya PDI-Perjuangan ini dalam simbol banteng.

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Catatan Terbaru